Tips and Trik Mengontrol Dampak Negatif Game Online | Uri.co.id

Uri.co.id

Menu

Tips and Trik Mengontrol Dampak Negatif Game Online

Tips and Trik Mengontrol Dampak Negatif Game Online
Foto Tips and Trik Mengontrol Dampak Negatif Game Online

JAKARTA – Banyaknya remaja yang menghabiskan waktu untuk memainkan online game membawa berbagai dampak negatif. Selain aktivitas belajarnya terganggu bahkan tidak sedikit yang kesehatannya menjadi bermasalah akibat berlama-lama berkutat pada permainan dalam jaringan (daring) itu.

Sudah saatnya dampak negatif yang ditimbulkan game online dikontrol oleh pihak-pihak yang berkepentingan.

Psikolog Kasandra Putranto mengungkapkan, kecanduan game kerap dikaitkan dengan ketidakmampuan seseorang dalam mengendalikan impuls dan diduga juga ada kaitan dengan masalah neuropsikologis. Pada banyak kasus kecanduan disebabkan faktor genetis dan lingkungan seperti pola asuh, belajar, dan disiplin.

Menurut Kasandra, seharusnya game online menjadi media relaksasi, menstimulasi, dan memberi semangat dalam hidup, bukan menjadi satu-satunya kehidupan. Jika tingkat kecanduan game mencapai level sangat parah, maka perlu bantuan psikofarmakologi, selain terapi perilaku dengan disiplin pengendalian diri.

Kasandra mengungkapkan, hal yang mesti diperhatikan dalam bermain game adalah prinsip what, when, where, why, who, dan how. Game yang masuk kategori war and fight cenderung mendorong perilaku kekerasan.

Game bertema sport mendorong sikap sportif. Game dengan role play mendorong aktif dan mengatasi depresi dan seterusnya. “Intinya, selama bisa tetap memiliki kehidupan yang wajar, relationship yang sehat dan prestasi yang baik ya boleh saja bermain game,” jelasnya.

Selain mengganggu kejiwaan, efek negatif kecanduan game juga bisa menyebabkan gangguan fisik seperti gatal-gatal di tangan, gangguan pada mata, bahkan sampai ke syaraf. Agar hal ini tidak terjadi, dia menyarankan orangtua tegas dan punya sistem yang disepakati, seperti anak baru boleh bermain game kalau sudah menjalankan kewajiban.

“Kalau masih di bawah 10-12 tahun masih bisa dengan teknik aktivasi perilaku baru. Kalau sudah lewat 12 tahun dan anak tidak punya kemampuan diri internal, biasanya akan menjadi lebih sulit,” papar Kasandra.

Sementara Danur, pemilik terapi Khalifa, Bekasi, mengatakan anak yang sudah terlalu parah dengan kecanduan game online memerlukan rehabilitasi karena sudah tidak mau sekolah dan melakukan aktivitas-aktivitas lain.

"Hal tersebut mengakibatkan pola makan dan hidup tidak teratur, malam jadi siang dan siang jadi malam, konsentrasi menurun, penurunan berat badan, dan secara fisik melemah. Gejalanya bisa dilihat dari si anak yang cenderung apatis, semacam pada gejala autis," ucapnya,

"Secara dunianya hanya pada online game dan sulit diatur serta agresif. Secara emosional mulai timbul gejala insomnia dan mulai berhalusinasi, yang datang dari khayalannya. Artinya, kehilangan hal-hal secara realistis dan hidup secara perilaku tergantung game yang dimainkan,” Danur menambahkan.

Kecanduan game biasanya ditemukan pada seseorang yang bermain lebih dari enam bulan secara terus-menerus. Di dalam jangka waktu itu mulai menjangkit karakter yang berbeda. Bisanya menjadi lebih sensitif dan mudah depresi. Hal itu terjadi karena ada kerusakan otak depan selebral karena penyusutan dan kelainan perilaku.

Meski banyak menimbulkan dampak negatif, beberapa pencandu game mempunyai kisah sukses akibat hobinya tersebut. Salah satu contoh orang yang sukses akibat bermain game adalah Arief Widhiyasa. Sejak kecil dia mengaku menyukai bermain game.

Saking keranjingannya sepertiga sampai setengah waktunya dipakai untuk game. Kendati begitu, dia belajar dari setiap game yang dia mainkan. Pada saat kuliah (2009) Arief beserta beberapa rekannya membangun usaha rintisan game developer bernama Agate Studio.

Kini Agate Studio telah mendunia. Berbagai produk game yang dibangunnya telah banyak dimainkan masyarakat dunia. Di perusahaan ini Arief adalah CEO. Dia menjelaskan, ada beberapa penyebab yang membuat masyarakat mengalami kecanduan game.

Salah satunya, game itu secara tidak langsung memberikan sebuah dunia yang cukup ideal bahagia. Di sana semua orang mempunyai kesempatan yang sama, setiap aksi kecil mendapatkan feedback yang positif.

Padahal, dunia nyata belum tentu seperti itu. Jadi, kebanyakan orang yang memutuskan untuk tenggelam dalam game mungkin karena mereka mengalami hal yang kurang mengenakkan di dunia nyata.

“Menurut saya, justru kita harus support dan berusaha membuat dunia nyata kita ini lebih bahagia,” ucap Arief seperti dikutip Koran Sindo, Senin (8/8/2016). Sebenarnya ada beberapa hal positif yang bisa didapatkan dengan bermain game. Misalnya game bisa membangun optimisme seseorang karena game melatih penggunanya untuk tidak mudah menyerah. (kem)

(uri/Amin/adani/MM)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Uri.co.id