Abu Sayyaf Sandera 10 WNI, Minta Tebusan Rp 15 Miliar | Uri.co.id

Uri.co.id

Menu

Abu Sayyaf Sandera 10 WNI, Minta Tebusan Rp 15 Miliar

  • Reporter:
  • Senin, Maret 28, 2016
Foto Abu Sayyaf Sandera 10 WNI, Minta Tebusan Rp 15 Miliar

Uri.co.id (Abu Sayyaf Sandera 10 WNI, Minta Tebusan Rp 15 Miliar) , MANILAN – Kelompok Abu Sayyaf menyandera 10 warga negara Indonesia (WNI) di perairan Tawi-tawi, Filipina. 10 WNI itu merupakan anak buah kapal tug boat. Untuk melepas 10 sandera tersebut, Abu Sayyaf meminta tebusan Rp 15 miliar.

Dilansir dari Manila Bulletin, Selasa (29/3), kapal dibajak militan Abu Sayyaf ketika dalam perjalanan dari Jakarta ke Manila.

Salah seorang korban disebut sudah dipaksa melakukan kontak dengan aparat setempat, untuk memberitahukan bahwa penyandera meminta tebusan untuk membebaskan mereka.

Kelompok Abu Sayyaf, yang diketahui pernah identik dengan Alqaeda, dan kemudian kini disebut dekat dengan ISIS itu meminta uang tebusan sekitar PHP (peso) 50 juta atau setara IDR (rupiah) 15 miliar.

Ketua DPR Ade Komarudin bersikap keras terkait penyanderaan 10 WNI oleh kelompok militan pimpinan Abu Sayyaf di Filipina. Dia menegaskan bahwa pemerintah jangan pernah mau berkompromi.

Ade Komarudin yakin pemerintah mampu melakukan pembebasan karena sudah punya pengalaman. Politikus Golkar itu teringat pada Operasi Woyla (1982 di Thailand).

“Jangan pernah kompromi, lakukan operasi secara tepat. Jangan khawatir, kita sudah pernah berhasil melakukan Operasi Woyla, itu berhasil,” kata Akom di gedung DPR Jakarta, Selasa (29/3).

Ya, dalam operasi Woyla tahun 1981 itu, pasukan elit TNI AD Kopasshanda (sekarang Kopassus) berhasil membebaskan ratusan WNI yang disandera kelompok teroris di pesawat Garuda Indonesia yang terparkir di Bandara Don Muang, Bangkok, Thailand.

Apalagi, lanjut Akom, dalam kasus ini ada unsur pemerasan agar 10 WNI tersebut dibebaskan. Negara, tegasnya, tidak boleh menyerahkan harga diri pada sekelompok orang yang ingin memeras.

“Masa negara ini harus takut kepada premanisme, kepada terorisme, tidak boleh,” tegasnya.(red/Akbar/M)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Uri.co.id