Umat Kristiani: Peringati Wafat Isa Almasih Hingga Paskah | Uri.co.id

Uri.co.id

Menu

Umat Kristiani: Peringati Wafat Isa Almasih Hingga Paskah

Foto Umat Kristiani: Peringati Wafat Isa Almasih Hingga Paskah

Uri.co.id (Umat Kristiani: Peringati Wafat Isa Almasih Hingga Paskah) , BELITUNG- Memasuki Tri Hari Suci, sejak Kamis (24/3/2016) yang disebut Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Suci, umat Kristiani Provinsi Bangka Belitung telah memperingati wafatnya Isa Almasih dan merayakan Paskah, Pesta Kebangkitan Tuhan.

umat Kristiani menjalani serangkaian perayaan Pekan Paska sudah dimulai Minggu (20/3/2016), di mana merayakan Minggu Palma, perayaan Tuhan Yesus Kristus masuk Kota Yerusalem.

Berbagai persiapan terus dilakukan umat Kristiani, mulai dari membersihkan gereja, mendekorasi, latihan paduan suara serta persiapan telur paskah untuk Paskah anak-anak.

Sebagai pengikut Kristus, Uskup Pangkalpinang, Mgr Hilarius Moa Nurak, menjelaskan perayaan Paskah merupakan pusat dan inti iman umat Kristiani. Itulah sebabnya untuk merayakan Paskah, umat mempersiapkan diri dengan penuh iman, dari masa Prapaskah melalui kegiatan pantang dan puasa, dan secara khusus selama pekan suci.

“Pekan suci kita mulai dengan Minggu Palma, perayaan Tuhan Yesus Kristus masuk Kota Yerusalem disambut dengan daun palma, lalu Kamis Putih, kita mengenang malam perjamuan terakhir Yesus bersama murid-muridNya sekaligus penetapan Sakramen Ekaristi dan Sakramen Imamat. Di perjamuan terakhir ini juga Tuhan Yesus menunjukkan teladan kasih dan pelayanan tanpa pamrih dengan tindakan mencuci kaki para muridNya. Hal ini memberikan makna kepada hidup dalam cinta kasih Kristus harus melayani satu sama lain,” kata Mgr Hilarius pada Bangka Pos, Rabu (23/3/2016).

Selanjutnya pada Jumat Agung, umat Kristiani akan mengenang sengsara dan wafat Kristus di salib, hari anak domba paskah dikorbankan yakni Tuhan Yesus Kristus.

“Bunda gereja mengundang seluruh umat untuk berpartisipasi penuh iman dalam kisah sengsara Tuhan Yesus sampai wafat di salib, umat mengungkapkan rasa cinta dan hormat kepada salib dengan perarakan dan penyembahan salib. Sebagai pengikut Kristus umat kristiani dituntut untuk berpartisipasi dengan penuh iman,” katanya.

Mgr Hilarius menambahkan, puncak dari tri hari Suci adalah Sabtu Suci, malam vigili paskah dan hari Minggu Paskah.

“Inilah menjadi kunci pemahaman akan misteri Paskah. Oleh wafat dan kebangkitan Kristus terpenuhilah rencana keselamatan Allah. Inilah dasar iman Kristen seperti yang dikatakan Santo Paulus,’Jika Kristus tidak dibangkitkan maka sia-sialah kepercayaan kamu’.”

Mgr Hilarius mengharapkan agar semua umat dapat mempersiapkan diri dengan penuh iman, semua tata perayaan disiapkan dengan baik sehingga perayaan wafat dan kebangkitan Kristus dilaksanakan penuh iman, sehingga perayaan Paskah dapat membawa sukacita dan kegembiraan dalam hidup dan pelayanan setiap orang.

Sedangkan Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) dalam pesan Paskah 2016 bertema; “Kristus bangkit: berilah dirimu diperdamaikan” (2 Kor.5:20b), meminta jemaatnya mewujudnyatakan hal-hal berikut:

1. merendahkan diri di hadapan Allah dan membuka diri untuk menerima karya pendamaian Allah. Hal ini sejatinya kita wujudkan secara nyata dalam tindakan konkret untuk memperbaiki relasi-relasi yang telah rusak, baik relasi dengan sesama maupun dengan lingkungan. Marilah kita secara konsisten mengembangkan budaya damai dalam keluarga, gereja, masyarakat, dan dengan alam semesta, melalui pikiran, sikap hidup, kata dan perbuatan;

2. menjadikan gereja sebagai persekutuan yang saling mendengar, saling mengampuni, dan saling menyembuhkan agar kita mampu memenuhi panggilan kita secara optimal sebagai pelayan pendamaian di tengah masyarakat;

3. berperan aktif sebagai pelayan pendamaian dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di Indonesia dengan mendukung upaya-upaya penegakan kebenaran, hukum, dan keadilan serta mendorong diwujudkannya revolusi mental di kalangan seluruh warga bangsa demi hadirnya sebuah NKRI yang bersatu dan berkeadaban berdasarkan Pancasila dan UUD 45;

4. mengembangkan sikap hidup saling menghargai di tengah konteks masyarakat Indonesia yang majemuk, sehingga dialog yang jujur dan terbuka dapat mendukung tercapainya kerukunan antar kelompok yang berbeda;

5. mampu mengendalikan diri sehingga tidak terperangkap oleh gaya hidup konsumtif, materialistis dan hedonistis yang tidak jarang menggiring kita menyalahgunakan wewenang dan tanggungjawab yang dipercayakan kepada kita.(red/ayu/ermawan/BH)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Uri.co.id