Lebaran di Kamp Pengungsi Gempa Palu yang Sunyi Tanpa Kembang Api

oleh

Palu – Di tengah duka yang masih menyelimuti, tak menyurutkan semangat pengungsi korban likuefaksi Balaroa, Kota Palu untuk merayakan momen Lebaran. Gema takbir, tahmid, dan tahlil tak henti-hentinya bersenandung dari pengeras suara di masjid-masjid darurat di kawasan pengungsian terpadu Sport Center.

Tenda-tenda pengungsi yang dihuni sekitar 400 kepala keluarga ini tetap merayakan momen Lebaran. Remaja dan mayoritas anak-anak tampak tidak sabar menunggu giliran membacakan takbir, tahmid, dan tahlil melalui mik yang disediakan pengurus masjid di sana. Lebaran kali ini sedikit sunyi karena tak ada petasan dan kembangi di langit Balaroa.

“Ini sekaligus untuk mentrauma healing anak-anak di sini ,juga supaya mereka tidak sedih harus merayakan malam Idul Fitri di tenda-tenda pengungsian,” kata Imam Masjid di lokasi, Mubarakah Ahyar di sela-sela membagikan zakat fitrah dan memantau takbiran anak-anak pengungsi di masjid darurat tersebut, yang dilansir Antara, Rabu (5/6/2019).
Apalagi, menurut dia, pergaulan anak-anak saat ini begitu bebas dan sangat rentan terjerumus ke dalam pergaulan bebas sehingga kegiatan-kegiatan kegamaan penting dihidupkan dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Daripada mereka hanya buat kegiatan yang sia-sia dan tidak berguna seperti main petasan,mending mereka takbiran di sini (masjid),” tuturnya.

Anggota jemaah sekaligus korban gempa, Ahmad, mengaku sangat terharu. Menurutnya suasana malam takbiran di Kota Palu, terutama di masjid darurat Mubarakah di kawasan Sport Center Balaroa. Menurut Ahmad, Takbiran di sini begitu hikmat dan tidak penuh dengan keramaian.

“Kalau malam Lebaran tahun lalu langit Palu penuh dengan kembang api yang selalu ditembaki warga sebagai bentuk kebahagiaan menyambut Lebaran. Pada tahun ini di sini saja (kawasan pengungsian Balaroa) sangat sederhana,” ucap Ahmad.
Bahkan kata dia, tidak ada satupun pengungsi yang menyalakan kembang api dan terkesan lebih sunyi dan sepi. Perayaan Lebaran di sini sangat sederhana.

“Tidak seperti biasanya. Biasanya kalau malam Lebaran begini warga sangat ribut dan ke sana kemari mengurus persiapan dapur atau membeli pakaian. Ini tidak. Pengungsi hanya di tenda dan tidak terasa euforia menyambut Lebaran dari raut wajah sebagian besar pengungsi,” ucapnya.

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!