Kisah Rujito, Dulu Pemburu Kini Pelestari Penyu Peraih Kalpataru

oleh

Bantul – Menyadari populasi penyu di Indonesia yang semakin menurun, seorang pemburu penyu asal Bantul, Rujito banting setir menjadi pelestari penyu. Berkat kegigihannya melestarikan penyu, Rujito meraih dua penghargaan Kalpataru dari Pemerintah Indonesia.

Rujito menceritakan, bahwa ia telah menjadi nelayan di Pantai Samas sejak tahun 80an hingga sekarang. Menurutnya, mencari ikan bukanlah hal yang mudah, terlebih jika memasuki masa paceklik.

Pria berumur 59 tahun ini menceritakan bahwa dulu jika memasuki masa paceklik, ia kerap memburu penyu di kawasan Pantai Pandansimo hingga Pantai Parangtritis. Penyu dipilih Rujito karena baik telur dan dagingnya laku untuk dijual.

“Jadi saya itu dulu pemburu penyu, terus kalau dapat penyu telurnya dijual dan penyunya dibeleh (Disembelih), diolah lalu dikonsumsi,” ujar Rujito saat ditemui di Pantai Samas, Desa Srigading, Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul, Selasa (4/6/2019).

Lanjut pria dengan postur tinggi ini, memasuki tahun 2000 ia mendapat sosialisasi dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Yogyakarta. Sosialisasi itu berkaitan dengan populasi penyu yang kian hari menuju kepunahan.

Rujito, pelestari penyu di Pantai Samas, Bantul.Rujito, pelestari penyu di Pantai Samas, Bantul. Foto: Pradito Rida Pertana/

“Dan akhirnya sadar kalau penyu itu harus dilestarikan karena jumlahnya makin sedikit, bukan malah ditangkapi dan terus dijual,” kata Rujito.

Akhirnya Rujito mulai membentuk Forum Konservasi Penyu Bantul (FKPB) Desa Srigading, Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul. Forum tersebut memiliki tujuan untuk membantu penetasan telur penyu, setelah menetas nantinya penyu-penyu tersebut akan dilepasliarkan di Pantai Samas.

“Jadi telur-telur penyu yang ditemukan di daerah rawan tersapu ombak itu kami ambil, terus dipindahkan ke penangkaran untuk ditetaskan. Tapi kalau menemukan telur penyu di daerah yang jauh dari sapuan ombak tidak diambil, tapi kami pantau terus sampai bisa menetas secara alami,” katanya.

Untuk membuktikan ucapannya, Rujito mengajak ke tempat penangkaran penyu yang berada sekitar 100 meter dari bibir Pantai Samas. Berukuran sekitar 10 meter persegi, penangkaran tersebut dikelilingi oleh tembok yang terbuat dari kombinasi botol beling dan semen.

Rujito, pelestari penyu di Pantai Samas, Bantul.Rujito, pelestari penyu di Pantai Samas, Bantul. Foto: Pradito Rida Pertana/

Tampak pula 11 tempat penetasan telur penyu yang berbuat dari buis beton. Selain itu, terdapat pula bak berukuran sedang sebagai tempat menaruh penyu yang berasal dari hasil penetasan, serta terdapat pula gazebo yang berfungsi sebagai tempat pendataan penyu yang telah menetas.

“Saya cuma buat tempat penetasan telur penyu dari buis beton ini, kalau lahannya ya SG dan gazebo sama bak-bak itu berasal dari bantuan,” ujarnya.

Pria yang kerap disapa mbah Dhuwur (tinggi) karena memiliki postur yang tinggi ini menuturkan, sejak 21 April hingga 1 Juni kemarin FKPB menemukan 987 telur penyu. Di mana telur-telur tersebut selanjutnya dimasukkan ke dalam buis beton dan ditimbun pasir pantai selama 50 hari.

“Memasuki 47 hari tanahnya akan ambles dan 3 hari kemudian penyunya mulai keluar. Setelah itu penyunya akan dipindah ke bak berisi air asin, dan seminggu kemudian akan kami rilis ke laut. Karena kalau terlalu lama akan menghambat masa berkembang biak penyu,” katanya.

“Besok tanggal 10 Juni akan ada 124 telur penyu akan menetas, dilanjutkan tanggal 25, 27 dan 29 Juni hingga yang terakhir menetas pada tanggal 19 Juli,” imbuh Rujito.

Rujito menjelaskan telur-telur yang menjalani proses penetasan itu berasal dari dari anggota FKPB dan para nelayan yang tidak sengaja menemukan telur penyu di bibir Pantai. Bahkan, sebagai bentuk apresiasi, FKPB memberi kompensasi Rp 2 ribu untuk setiap telur penyu yang disetorkan ke penangkaran.

“Bukan dibeli ya, tapi diganti uang untuk setiap telur yang disetorkan ke kami. Selain itu kami juga tidak memperjualbelikan penyu yang sudah menetas, karena penyu ini harus hidup di habitatnya agar bisa terus beregenerasi,” ucap Rujito.

Sambung Rujito, upaya pelestarian penyu yang dilakukannya sempat mendapat penolakan dari segelintir orang. Bahkan, ia sempat mempergoki orang-orang yang secara sengaja menyiram cairan tertentu ke lubang penetasan miliknya.

“Dulu lubang penetasan itu (telur penyu) pernah dikasih minyak stroli sama orang, tapi hal itu tidak menyurutkan saya untuk melestarikan penyu,” katanya.

Kegigihan Rujito dalam melestarikan penyu selama hampir 2 sekade ternyata mendapat dukungan dari berbagai pihak. Bahkan, Pemerintah Indonesia sempat memberinya penghargaan Kalpataru.

“Tahun 2007 sama tahun 2016 itu saya dapat penghargaan Kalpataru dari pemerintah, rasanya senang karena usaha saya ternyata ada yang menghargai. Dan semoga apa yang saya lakukan ini dapat memicu orang-orang di luar sana untuk ikut melestarikan penyu,” katanya

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!