Jipang, Jajanan Lawas yang Tetap Eksis Saat Lebaran

oleh

Tulungagung – Mendengar kata jipang, bayangan kita pasti akan langsung tertuju pada camilan khas di kawasan pedesaan yang telah ada sejak zaman ‘old’. Makanan ringan yang terbuat dari berondong jagung, kacang, maupun beras itu ternyata masih eksis hingga sekarang.

Jajanan legit berbalut karamel namun renyah tersebut dapat dengan mudah di wilayah Tulungagung dan sekitarnya, bahkan pengusaha yang memproduksi jipang masih cukup banyak.

Salah satunya di tempat usaha milik Abdul Sakur di Desa Serut, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung. Pengusaha ini setiap hari menghabiskan bahan baku beras hingga 4,5 kwintal. Beras dengan kualitas bagus itu diolah menjadi berondong beras atau jipang dan dipasarkan hingga ke luar pulau.

Suara ledakan mirip mercon besar saling bersahutan saat memasuki kawasan usaha milik Abdul Sakur. Bagi orang awam mungkin saja akan terkejut saat mendengar suara tersebut, namun Itu bukanlah mercon atau bom, melainkan alat produksi jipang beras.

Dalam produksinya, beras berkualitas bagus yang menjadi bahan baku utama dimasukkan ke alat masak semi otomatis itu. Kobaran api kompor gas tekanan tinggi memanasi mesin yang terus berputar. Berselang lima menit proses pemasakan selesai, peoses inilah yang menimbulkan ledakan, bahan baku beras berubah menjadi butiran-butiran berondong.

Setelah itu, proses produksi dilanjutkan dengan mencampurkan butiran berondong dengan karamel , sehingga bisa disatukan dan dicetak sesuai keinginan.

Dengan cekatan, salah seorang karyawan mengaduk bejana berisi berondong dan karamel. Belum sampai mengeras, adonan tersebut dihamparkan pada meja khusus untuk dipadatkan dan diiris sesuai ukuran.

Yang tak kalah menarik, adalah proses pengemasan, para karyawan dengan cepat memasukkan jipang beras yang telah diiris kotak-kotak ke dalam plastik kecil. Kelihaian pada karyawan itu bak mesin otomatis.

Sakur mengaku telah memproduksi jipang lebih dari 10 tahun lalu, meskipun hanya jajanan tradisional, namun peminatnya hingga saat ini masih relatif banyak.

“Kalau sebelum 2005 itu peminatnya naik turun secara drastis, tapi kalau sekarang terus ada, bahkan distribusinya sampai luar pulau,” katanya.

Dalam sehari ia mampu memproduksi 1.000 bal, masing-masing bal berisi 50 bungkus jipang. Makanan tersebut dikirim ke berbagai daerah, diantaranya Surabaya, Nusa Tenggara Barat (NTB) hingga Nusa Tenggara Timur (NTT) serta Jawa Tengah.

“Saya sering kirim ke Maumere dan kota-kota di sekitarnya,” ujarnya.

Jipang siap dikemasJipang siap dikemas (Foto: Adhar Muttaqin)

Untuk menjaga kualitas produksinya, Sakur mengunakan bahan-bahan yang bermutu mulai dari beras hingga gula pasir, Sakur mengaku tidak memakai pengawet.

Terkait dengan beras yang digunakan, tidak boleh sembarangan, karena meskipun enak untuk dimasak menjadi nasi, namun belum tentu enak untuk dijadikan jipang.

“Kalau di sini saya pakai beras Ciherang, kalau yang lain tidak bisa maksimal, seperti beras legowo tidak bisa, kemudian membaramo juga tidak bisa, padahal kalau dimasak ya enak dan pulen nasinya,” imbuh Sakur.

Selain itu pemanfaatan beras juga harus melihat yang minim kadar airnya, biasanya beras yang digunakan berasal dari gabah yang telah tiga hingga empat hari disimpan.

Meskipun telah eksis selama belasan tahun, Sakur mengaku masih menemukan berbagai tantangan dan kendala. Salah satunya adalah fluktuasi harga bahan baku beras dan gula.

“Karena bahan bakunya yang saya gunakan banyak, sehingga cukup terasa saat mengalami kenaikan, seperti harga gula yang tadinya Rp 10 ribu naik jadi Rp 12 ribu,” katanya.

Sementara itu pada momen jelang lebaran, produksi jipang miliknya justru mengalami penurunan sekitar 20 persen,
karena jajanan tersebut tidak difokuskan untuk kebutuhan lebaran.

“Karena kebetulan jipang ini memang bukan khas untuk lebaran, namun hanya camilan. Kemarin ada sih yang minta untuk jajan lebaran tapi ukurannya harus kecil,” jelasnya.

Menurutnya pengaruh terbesar tingkat konsumsi jipang adalah faktor cuaca. Disaat musim penghujan maka permintaan jipang akan mengalami peningkatan signifikan, sedangkan pada saat kemarau dipastikan akan turun.

“Ya mungkin saya kalau musim hujan enak buat ngemil, sedangkan kalau kemarau camilan yang membuat haus akan dihindari,” ucapnya.

Makanan tradisional tersebut dijual ke ke distributor Rp 14 ribu/bal sedangkan di tingkat pengecer dijual Rp 25 ribu/bal.

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!