Prinsip Anies Hadapi Kritik

oleh

Jakarta – Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyatakan dirinya siap menghadapi kritik. Ia mengaku punya prinsip yang menjadi pedomannya sejak dulu. Apa itu?

Dirangkum , Senin (27/5/2019), Anies menyebut dirinya sejak lama berpedoman bahwa seorang pejabat publik harus mau menerima masyarakat. Menurutnya, pejabat publik tidak boleh hanya mau sekadar dipuji.

“Kalau di wilayah publik jangan minta dipuji saja. Di wilayah publik itu harus siap dicaci maki, diminta turun atau naik. Itu prinsipnya sama. Dicaci tidak tumbang, dipuji tidak terbang,” kata Anies di Stadion GBK, Senayan, Jakarta, Minggu (26/5).

Anies pun mencontohkan dirinya saat dikritik. Dia mengaku tidak pernah meminta agar pengkritiknya ditangkap.

“Kalau ada yang mengkritik nggak usah ditangkap. Saya nggak pernah menangkap orang yang mengkritik saya. Sama sekali,” ujarnya.

Pernyataan Anies datang setelah ia ditanya mengenai petisi online yang meminta agar dia dicopot dari jabatan Gubernur DKI Jakarta. Dalam petisi yang dibuat ‘Opini Kamu’, Anies disebut telah gagal memimpin DKI Jakarta. Pembuat petisi meminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Mendagri Tjahjo Kumolo segera memanggil dan memecat Anies. Petisi itu dibuat sejak 10 bulan lalu.

Ia merasa tidak keberatan dengan petisi tersebut. Dia mengatakan tiap warga negara berhak menyampaikan pendapat. Menurutnya, kritik merupakan risiko yang harus dihadapinya sebagai seorang pejabat publik.

“Setiap warga negara berhak menyampaikan, berhak mengkritik. Dan kalau berada di ranah publik harus mau dikritik, harus. Bahkan dicaci maki pun harus biasa-biasa saja,” kata Anies.

Sejumlah kritik kepada Anies, misalnya, datang saat kerusuhan di aksi 22 Mei 2019. Sikap Anies terhadap aksi tersebut dipertanyakan.

Alasannya, Anies merupakan pihak yang pertama kali merilis jumlah korban tewas akibat aksi 22 Mei itu. Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin menilai narasi Anies terkesan membela perusuh daripada pihak kepolisian yang menjaga keamanan.

“Semua orang juga tahu kok keberpihakannya. Lihat saja narasi-narasinya terkait kerusuhan 22 Mei, yang disebut cuma korban dari pihak perusuh,” kata juru bicara TKN Jokowi-Ma’ruf, Irma Suryani Chaniago, Sabtu (25/5).

“Polisi yang jadi korban dan masyarakat yang jadi korban nggak ada yang dia sebut, apalagi diapresiasi!” imbuh dia.

Kembali ke Anies, dia pun sempat menjawab kritik tersebut. Ia mengungkapkan alasan mengapa dirinya membuka data soal korban tewas dan luka di aksi 22 Mei.

Anies mengaku tujuannya adalah untuk transparansi kepada masyarakat. Selain itu, dia menyebut tujuannya mengumumkan data korban adalah mengklarifikasi berita hoax yang beredar.

“Kenapa saya umumkan korban? Untuk mencegah terjadinya spekulasi. Jadi, kalau ada orang yang protes, kenapa korban belum diumumkan? Apa salahnya dengan transparansi?” kata Anies di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Jumat (24/5).

Kembali Raih WTP, Anies: Kerja Keras Seluruh Jajaran:

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!