14 Temuan Awal Dugaan Pelanggaran HAM pada Kerusuhan 22 Mei

oleh

Uri.co.id, Jakarta – Gabungan kelompok masyarakat yang terdiri dari YLBHI, KontraS, LBH Jakarta, AJI, Lokataru Foundation, Amnesty Internasional Indonesia, dan LBH Pers mengungkap 14 temuan dugaan pelanggaran dalam aksi massa yang berujung ricuh pada 21-22 Mei 2019.

Menurut mereka, 14 temuan itu hanya panduan awal guna mengusut fakta dan data yang lebih detil terkait dugaan pada peristiwa kerusuhan 22 Mei 2019.

Dugaan kesewenang-wenangan aparat saat aksi 22 Mei itu telah menimbulkan korban dari berbagai kalangan antara lain warga setempat, peserta aksi, jurnalis, hingga tim medis.

“Ini merupakan keprihatinan mendalam kami, dan ini hanya temuan awal fakta pelanggaran HAM, setidaknya ada 14 hal kami temukan,” ujar perwakilan YLBHI, Muhammad Isnur di Kantor YLBHI, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (26/5/2019).

Temuan ini, lanjut Isnur, akan diteruskan kepada lembaga yang lebih berwenang seperti Komnas HAM, Ombudsman, Kompolnas, dan Komisi III DPR RI untuk mengevaluasi kinerja aparat penegak hukum dalam .

14 Temuan Awal

Polisi menembakkan gas air mata untuk memecah konsentrasi massa Aksi 22 Mei saat terjadi bentrok di depan gedung Bawaslu, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Rabu (22/5/2019). Aksi unjuk rasa yang dimotori GNKR berakhir ricuh. (Uri.co.id/Immanuel Antonius)

Berikut 14 temuan awal dugaan pelanggaran HAM pada kerusuhan 22 Mei berdasarkan sumber data temuan di lapangan kelompok masyarakat:

1. Temuan akan pecahnya insiden;

2. Temuan akan korban dalam insiden;

3. Temuan penyebab dari insiden;

4. Pencarian dalam insiden;

5. Desakan untuk tim investigasi internal kepolisian;

6. Temuan indikiasi kesalahan penanganan demonstrasi;

7. Penutupan akses tentang korban dan rumah sakit;

8. Temuan akan penyiksaan dan yang diduga dilakukan oknum aparat saat insiden dalam aksi;

9. Temuan penghalangan informasi untuk keluarga ditahan;

10. Temuan salah tangkap oleh aparat di lapangan;

11. Temuan kekerasan kepada tim medis;

12. Temuan hambatan meliput kepada jurnalis;

13. Temuan penghalangan akses untuk advokat kepada orang ditangkap; dan

14. Temuan pembatasan komunikasi via media sosial.

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!