‘Aladdin’, Kisah Magisnya Masih Mempesona

oleh

Jakarta – Ada (Mena Massoud) seorang pemuda yang bertahan hidup di luaran istana Agrabah dengan menjadi seorang kriminal keci. Bersama monyetnya bernama Abu, Aladdin mencuri untuk bertahan hidup. Tapi Aladdin yang sebatang kara tidak jahat. Kadang dia memberi kurma-kurma yang didapatnya untuk para tuna wisma yang sangat kelaparan itu.

Dan hari itu sepertinya hari yang paling beruntung bagi Aladdin. Karena dia bertemu dengan Princess Jasmine (Naomi Scott) yang sungguh mencuri hatinya. Sebenarnya keduanya sudah saling merasakan sesuatu. Yang tidak Aladdin ketahui adalah bahwa perempuan yang dia temuinya adalah seorang putri. Jasmine berkeras untuk berpura-pura jadi asisten si putri karena sebenarnya dia dilarang untuk berkeliaran di luar istana. Sepeninggal ibunya, si Raja (Navid Negahban) rupanya sangat protektif terhadap si putri.

Di saat terakhir mereka bertemu Aladdin gagal memberikan gelang Jasmine. Jasmine langsung menuduh bahwa Aladdin tak ada bedanya dengan pencuri jalanan lainnya. Aladdin yang hatinya sudah dicuri oleh si Putri merasa harus menyusup ke istana untuk mengembalikan si gelang kepada Jasmine. Jasmine tentu saja kaget ketika tahu bahwa si anak jalanan bisa menyusup ke dalam istananya dengan mudah. Dan disinilah Aladdin mengetahui bahwa Jasmine bukan asisten si putri. Jasmine adalah si putri tersebut.

Aladdin bersiap untuk kembali ke kehidupannya yang semula ketika dia bertemu dengan Jafar (Marwan Kenzari). Jafar tentu saja adalah orang jahat yang ingin menguasai dunia. Jafar tahu sebuah tempat dimana dia akan mendapatkan kekuatan yang diinginkannya. Yang ia perlukan adalah “berlian yang belum diasah” sebagai tumbal. Dan Aladdin cocok dengan deskripsi tersebut.

Apa yang terjadi selanjutnya masih sama persis dengan apa yang sudah Anda lihat di versi animasinya. Penulis skrip John August dan Guy Ritchie tidak merubah banyak hal dari kisah klasik Disney ini. Kita akan melihat Aladdin berhasil menemukan si lampu ajaib itu. Si Jin (Will Smith) akhirnya muncul dan memberikan tiga permintaan kepada Aladdin. Aladdin akhirnya meminta Jin untuk merubahnya menjadi Prince Ali untuk merebut hati Princess Jasmine. Semuanya masih sama menapaki jejak versi aslinya. Semuanya bermain aman. Satu-satunya yang mungkin cukup revolusioner adalah karakterisasi Princess Jasmine.

Princess Jasmine bukanlah sekedar putri yang kerjanya cuman nampak cantik dan duduk-duduk senang di taman dengan gaun indah kemudian mengelus harimau peliharaannya. Princess Jasmine versi Guy Ritchie adalah versi woke. Putri dalam Aladdin versi baru ini ingin menjadi pemimpin. Dia ingin mengakhiri penderitaan rakyatnya. Masalahnya adalah Agrabah masih patriarkal dan si raja masih belum rela memberikan tahta ini kepada perempuan. Dan inilah yang membuat Princess Jasmine menjadi lebih punya gas. Apalagi ketika Benj Pasek dan Justin Paul memberikan dia lagu solo original dengan judul Speechless.

Aladdin versi live action mungkin memang tidak perlu dibuat. Kalau Anda sudah menonton versi animasinya sebenarnya Anda tak perlu menonton versi ini. Karena intinya sama saja. Dan Guy Ritchie sebagai sutradara sadar penuh akan hal ini. Dan itulah yang dia lakukan dengan proyek cari uang ini. Dia memaksimalkan kemampuannya yang ada untuk membuat cerita yang klasik ini (kalau kita mau menghindari kata basi) menjadi sebuah tontonan yang terasa fresh.

Keputusannya untuk memilih Mena Massoud dan Naomi Scott ternyata menghasilkan buah yang baik. Keduanya tidak hanya tampil begitu cantik dan rupawan di dalam frame indah buatan Guy Ritchie yang fantastis tapi mereka juga terasa seperti jatuh cinta beneran. Ketika Anda menyaksikan Aladdin sedang berbunga-bunga atau betapa Princess Jasmine terpukau dengan tarian Aladdin, Anda akan merasakan feeling itu. Chemistry keduanya begitu apik sehingga Anda tak perlu merasa harus berusaha untuk merasakan perasaan cinta. Sementara Massoud membuat Aladdin menjadi lebih menggemaskan dari versi animasinya, Scott membuat Jasmine menjadi lebih kuat. Gabungan keduanya membuat adegan terasa lebih meriah ketika mereka bersama-sama.

Dan suasananya menjadi tak terkendali serunya ketika Will Smith yang kebagian peran sebagai Jin muncul. Memerankan karakter Jin ini tidak mudah. Tugas Will Smith sungguh berat karena Robin Williams mengisi suara si Jin di versi animasinya dengan sempurna. Tapi ternyata Will Smith bisa menjadikan Jin versinya tetap menyenangkan. Will Smith memberikan nuansa “street” yang gaul dan flawless terhadap karakternya sehingga kita merasakan Jin yang lebih swag. Setiap kali si Jin muncul, Anda bersama anak-anak dan keponakan Anda pasti akan tersenyum kesenangan.

Sayangnya Aladdin masih mempunyai masalah yang sama dengan beberapa kasus film live action Disney yang lain. Karakter antagonisnya sama sekali tidak menggigit dan babak ketiganya sungguh letoy jika dibandingkan dengan dua babak sebelumnya. Resolusinya tidak berhasil memberikan suasana magis yang Anda rasakan 100 menit sebelumnya.

Tapi meskipun begitu, kemungkinan besar Anda akan tetap menikmati Aladdin versi millenial ini. Dengan visual yang megah dari sinematografer Alan Stewart (departemen production design, costume dan make-up sangat membantu visual Aladdin menjadi warna-warni menyenangkan) dan visual efek yang oke, Aladdin tetap berhasil membuat Anda melambung merasakan magisnya kisah negeri Agrabah. Bahkan meskipun ini kisah daur ulang, magisnya si Jin dan karpet ajaib ternyata masih membius.

Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!