Kota Kamakura Jepang Larang Wisatawan Makan Sambil Jalan

oleh

Uri.co.id, Jakarta – Bagi Anda yang suka makan sambil jalan di destinasi wisata, kini sudah tak bisa lagi. Khususnya, saat Anda berkunjung ke Kamakura, sebuah kota di .

Pemerintah daerah telah meminta turis tidak makan sambil berjalan sejak April 2019 lalu. Dilansir CNN, Jumat, 24 Mei 2019, salah satu masalah utama adalah sampah kemasan dan sisa makanan, yang dapat mendatangkan hewan dan membuat kekacauan yang harus dibersihkan oleh penduduk setempat.

Kamakura berjarak sekitar 30 km (19 mil) barat daya Yokohama. Ini adalah rumah bagi beberapa kuil paling terkenal di negara itu, serta pantainya yang indah.

Peraturan tersebut dipasang di tempat umum untuk membangun kesadaran akan masalah ini ketimbang menghukum para pelancong. Tak ada denda atau kutipan bagi mereka yang melanggar.

Secara khusus, Komachi-dori, jalan yang sibuk dengan banyak toko, telah menjadi fokus perhatian ketika datang untuk makan di luar. Jalan ini berhenti di banyak wisata makanan lokal, meskipun juga menjadi area komersial.

Sekitar 50-60 ribu orang mengunjungi Komachi-dori setiap hari, yang tampaknya lebih luar biasa ketika menyadari bahwa itu hanya sepanjang 350 meter.

Tak Menghargai Makanan

Temple Kamakura (Image by <a href=Sunisa Thongdaengdee from

Kekhawatiran tentang makan sambil berjalan tak hanya terkait dengan potensi tumpahan dan pakaian yang berantakan. Banyak orang Jepang percaya itu adalah perilaku buruk untuk berjalan atau melakukan aktivitas fisik lainnya saat makan karena itu berarti tak menghargai makanan dengan benar.

Bagi sebagian orang, kepercayaan ini berakar pada Perang Dunia II, ketika makanan langka dan itu sesuatu yang harus dihargai dan bukan diperlakukan dengan santai. Masalah turis makan di jalan bukan hanya masalah di Jepang.

Di Florence, Italia, bagian dari pusat kota memiliki larangan langsung makan di trotoar, jalan raya dan di depan pintu toko-toko dan rumah-rumah. Ini bukan hanya tentang kebersihan – ini adalah bagian kota yang sangat sibuk dan ramai, dan orang-orang yang duduk di trotoar membuat orang lain tak leluasa untuk berjalan.

Dalam kasus Florence, pembatasan tersebut disertai dengan penalti 500 Euro atau sekitar Rp 8 juta.

Sementara itu, sebuah kota dengan makanan kaki lima terbaik di dunia, Bangkok, telah mencoba mencari tahu apa yang harus dilakukan dengan kondisi itu. Beberapa penduduk setempat menginginkan pembatasan atau bahkan penutupan karena kerumunan orang yang terus bertambah.

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!