Kalung Puluhan Miliar Rupiah Rita Ora Tertinggal di Pesawat

oleh

Uri.co.id, Jakarta – kiranya mendapat pelajaran untuk tak mempercayakan barang, terutama yang berharga, dibawa orang lain. Melansir dari AFP, Jumat (24/5/2019), kalung senilai 4 juta dolar Amerika atau setara Rp 58 miliar milik penyanyi asal Inggris itu tertinggal di pesawat.

Polisi Prancis menjelaskan bahwa seorang perempuan yag tak diberitahu namanya yang bertugas membawa kalung tersebut tengah melakoni penerbangan dari Bandara Luton London ke Nice ketika insiden itu terjadi pada Kamis, 16 Mei 2019.

Dipaparkan, perempuan itu lupa membawa coat dan koper berisi perhiasan milik ketika turun dari pesawat. Ketika sadar, pessawat yang dimaksud sudah melakukan penerbangan kembali ke London.

Cepat melapor ke pihak berwajib, beruntung perhiasan tersebut berhasil diamankan pihak maskapai dan langsung dikirim kembali ke Nice sesaat setelah sampai di Luton. “Seseorang dengan pikiran di atas awan hampir saja menghilangkan perhiasan jutaan dolar,” canda salah satu polisi Prancis yang menangani kasus ini.

Keterlambatan kalung mahal ini tak membuat habis ide untuk tampil menawan. Berjalan di karpet merah Cannes Film Festival 2019, penyanyi 28 tahun ini tampak memakai kalung dan anting berlian yang dipadankan dengan bustier dress putih.

Tantangan Rita Ora dalam Berbusana

Rita Ora memakai anting karya desainer aksesori Indonesia, Rinaldy Yunardi. (dok. Instagram @rinaldyyunardi/https://www.instagram.com/p/BvQVg-Vj4AN/Putu Elmira)

Terlepas dari insiden kalung tertinggal di pesawat, Rita Ora, seperti dilansir dari People, Jumat (24/5/2019), sebenarnya memiliki perjalanan panjang menemukan desaner yang bisa meyempurnakan penampilan sesuai bentuk tubuhnya.

“Ada masalah yang harus dihadapi, iya, karena Anda harus beradaptasi dengan tubuh Anda. Saya tidak pernah menganggap tubuh saya jadi sasaran serangan secara pribadi karena ini adalah diri saya dan saya akan selalu begini. Saya tidak mau berubah untuk orang lain,” katanya.

Rita sendiri mengaku tak pernah membatasi diri dalam mengeksplorasi gaya berbusana. Hal ini dilakukan mengingat dunia fashion yang terus bergulir dengan pergantian mode, juga opsi dalam berdandan.

“Saya memang membiarkan pintu terbuka untuk menerima masukan dalam berbusana. Karena sebenarnya tak ada aturan pasti dalam berbusana,” sambungnya.

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!