Jelang Lebaran, Perajin Jilbab di Mojokerto Raup Omzet 2 Kali Lipat

oleh

Mojokerto – Berkahsudah dirasakan Resisti Ningrum (31), salah seorang produsen jilbab di Mojokerto. Pesanan yang bertambah banyak membuat omzetnya meningkat hingga dua kali lipat.

Resisti tampak sibuk menata koleksi jilbab saat menyambangi rumahnya di Kedungpring Gang Baru, Desa Jampirogo, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto. Ibu dua anak itu juga sesekali mengawasi 4 karyawatinya yang sedang mengerjakan pesanan.

Di rumah yang tempati bersama sang suami Ervin Susanto (32) dan kedua anaknya, ia berbisnis jilbab sejak 5 tahun lalu. Resisti juga berbagi tempat dengan suaminya yang kini menggeluti bisnis produksi sepatu.

Dia mengatakan, pesanan mulai meningkat sejak sebulan sebelum Ramadhan. Pesanan jilbab tersebut datang dari Surabaya, Sidoarjo, Lumajang, Banyuwangi, Malang dan Nganjuk. Pemasaran melalui media sosial yang dia tekuni juga sukses menembus pasar luar Jawa. Seperti Balikpapan dan Jambi.Para pemesan merupakan pemilik toko busana dan distributor jilbab. Dibantu keempat karyawatinya, sampai hari ini Resisti harus bekerja keras untuk memenuhi pesanan. Karena dalam sehari, rata-rata dia harus mengirim 100 potong jilbab ke para pemesan. Agar pesanan tepat waktu, dia menarget setiap karyawan untuk menuntaskan 20 potong jilbang per hari.

“Alhamdulillah omzet saya juga meningkat dari Rp 500 ribu sampai Rp 1juta per hari menjadi Rp 1 juta sampai Rp 2 juta per hari,” kata Resisti kepada wartawan di rumahnya, Kamis (23/5/2019).

Omzet penjualan jilbab yang meningkat otomatis mendongkrak laba yang diperoleh Resisti. Rata-rata sehari dia mendapatkan keuntungan 25% dari omzetnya. Atau sekitar Rp 250 ribu hingga Rp 500 ribu.

Selama lima tahun berbisnis jilbab, Resisti mengaku telah menciptakan ratusan model jilbab dengan berbagai jenis kain. Agar tak tertinggal oleh tren masa kini, wanita berhijab ini rajin berselancar di media sosial untuk menemukan referensi.”Contoh dari medsos itu saya pilih yang unik, lalu saya beri kreasi sedikit agar tidak sama,” ujar pemilik merek Annisa Hijab ini sembari menunjukkan jilbab model instan bulun dan instan brokat buatannya.

Resisti mengaku, ratusan model jilbab buatannya tak semuanya laku keras pada momen tahun ini. Menurut dia, saat ini hanya 6 model yang paling diminati para pemesan. Yaitu Khimar Qiara, Willoona Couple mom and kids, Instan Priti, Khimar Salwa, Instan Tiara, Instan Khanza.

Model Instan Khanza misalnya, jilbab ini tergolong model baru karena menggunakan perpaduan antara bahan baloon livina dan organza bulu. Jilbab berbahan brokat juga banyak digemari pembeli meski harganya mencapai Rp 125 ribu per potong. Karena bahan brokat juga mahal, yaitu Rp 50 ribu per meter.

“Harga jilbab kami antara Rp 70 ribu sampai Rp 125 ribu, tergantung jenis bahan dan modelnya,” pungkasnya.

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!