Harga Minyak Melejit Dipicu Rencana OPEC Pangkas Produksi Lagi

oleh

Uri.co.id, New York – pada hari Senin (Selasa pagi WIB) naik ke level tertinggi dalam beberapa pekan, usai Organisasi Negara-negara pengekspor minyak (OPEC) memberi sinyal akan mempertahankan penurunan produksi yang telah membantu mengangkat harga tahun ini. Sementara meningkatnya ketegangan Timur Tengah juga menyokong harga minyak.

Dilansir dari Reuters, Selasa (21/5/2019), mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) naik USD 34 sen menjadi USD 63,1 per barel, setelah mencapai USD 63,81 per barel, harga tertinggi sejak 1 Mei.

Minyak mentah berjangka Brent turun USD 24 sen menjadi USD 71,97 per barel, setelah sebelumnya menyentuh USD 73,4 per barel, tertinggi sejak 26 April.

Menteri Energi Arab Saudi Khalid al-Falih menyatakan anggota OPEC dan sekutunya berencana untuk tetap melakukan program pemangkasan produksi. Namun pemangkasan tersebut tidak dilakukan secara agresif, dan tetap responsif terhadap kebutuhan pasar global.

Komentar tersebut memberikan dorongan awal untuk pada hari Senin, meski harga minyak berjangka memangkas kenaikan sepanjang sesi.

OPEC, Rusia dan produsen non-anggota lainnya, aliansi yang dikenal sebagai OPEC+, sepakat untuk memangkas produksi sebesar 1,2 juta barel per hari (bph) selama enam bulan sejak 1 Januari 2019 demi mencegah membanjirnya persediaan dan pelemahan harga.

Pertemuan Komite Pemantauan Bersama Tingkat Menteri (JMMC) di Arab Saudi selama akhir pekan tidak membuat rekomendasi yang solid. OPEC dan sekutunya akan bertemu di Wina pada 25-26 Juni untuk pertemuan kebijakan minyak berikutnya.

Namun, kelompok tersebut mempertimbangkan untuk memindahkan tanggal ke 3-4 Juli, dua sumber OPEC mengatakan pada hari Senin. Perubahan tanggal belum dikonfirmasi secara resmi, kata sumber itu.

Menteri Energi Uni Emirat Arab Suhail al-Mazrouei sebelumnya mengatakan, OPEC mampu mengisi setiap celah pasar dan bahwa pengurangan pasokan yang ‘santai’ bukanlah keputusan yang tepat. Data OPEC menunjukkan persediaan minyak di negara maju naik 3,3 juta barel per bulan di bulan Maret, dan 22,8 juta barel di atas rata-rata lima tahun.

Menambah sentimen bullish adalah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Melalui akun Twitternya pada hari Minggu, Presiden AS Donald Trump mengancam akan membuat riwayat Teheran secara resmi berakhir atau tamat jika Iran nekat ingin berperang dengan AS

Retorika ini merespons serangan minggu lalu terhadap aset minyak Saudi dan penembakan roket pada hari Minggu ke “Zona Hijau” di Baghdad yang meledak di dekat kedutaan AS. Inggris mengatakan kepada Iran pada hari Senin untuk tidak meremehkan tekad Amerika Serikat, memperingatkan bahwa jika kepentingan Amerika diserang maka Trump akan membalas.

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!