Pengembang Ini Jadikan Bintaro Jaya Sebagai Kawasan TOD

oleh

Uri.co.id, Jakarta Pengembang PT Jaya Real Property Tbk (JRP) mengembangkan kawasan Bintaro Jaya menjadi kawasan hunian berbasis Transit Oriented Developtment (TOD).

TOD merupakan salah satu pendekatan pengembangan kota yang mengadopsi tata ruang campuran dan maksimalisasi penggunaan angkutan massal seperti Busway, Kereta api kota (MRT), Kereta api ringan (LRT), serta dilengkapi jaringan pejalan kaki atau sepeda.

“Bintaro Jaya saat ini telah dikembangkan menjadi kawasan hunian yang nyaman dan terintegrasi berbasis Transit Oriented Development (TOD),” ucap General Manager PT Jaya Real Property, Hari Suprianto dikutip keterangannya di Jakarta, Senin (20/5/2019).

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) sebelumnya memang mendorong pengembang swasta untuk berperan aktif membangun kawasan mix-use (pemukiman, jasa, dan komersial) yang diintegrasikan dengan simpul transportasi publik atau dikenal dengan konsep Transit Oriented Development (TOD).

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan, konsep TOD merupakan salah satu solusi terhadap isu kemacetan di kota besar sejalan dengan Program Satu Juta Rumah untuk memenuhi kebutuhan hunian bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR).

“Sebenarnya tidak hanya pada integrasi moda transportasi, tetapi nanti arahnya juga ke pengembangan kawasan dan kota (urban development) sekaligus untuk pengurangan kawasan kumuh perkotaan,” ujar Menteri Basuki dalam sebuah pernyataan tertulis, Jumat (10/5/2019).

Penerapan TOD sendiri telah dilakukan Kementerian PUPR bersama Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sejak April 2017, ditandai dengan pembangunan hunian vertikal Rusunami di Stasiun KRL Tanjung Barat dan Pondok Cina.

Animo masyarakat yang sangat baik terhadap konsep ini lantas membuat penerapan TOD kembali diluncurkan di tiga stasiun lain, yakni Stasiun Senen, Juanda dan Tanah Abang.

Reporter: Idris Rusadi Putra

Sumber; Merdeka.dom

Event

Mengenalkan potensi kawasan ini, perusahaan pada Ramadan ini menggelar event lari ‘Bintaro Jaya Night 10k: Run For Education’ memiliki konsep yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.

Event lari dengan kategori 5k dan 10k ini diadakan pada malam hari di bulan Ramadan, tepatnya di hari Sabtu, 18 Mei 2019 lalu dan diikuti oleh pelari-pelari profesional, komunitas-komunitas lari, serta pecinta olahraga lari secara umum.

Hari menjelaskan, tujuan utama gelaran acara lari tersebut ialah untuk merayakan ulang tahun Bintaro Jaya sekaligus beramal untuk pendidikan di Indonesia, khususnya di wilayah sekitar Bintaro Jaya.

Tahun ini, ‘Bintaro Jaya Night 10k: Run For Education’ diselenggarakan oleh Pengelola Kawasan Bintaro (PKB) dan dikerjakan oleh mahasiswa-mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Pembangunan Jaya (UPJ) angkatan 2016 yang mengambil mata kuliah Manajemen Acara, dengan bimbingan konsultan yang kompeten di bidangnya.

Event ini diharapkan mampu membuat masyarakat semakin menyadari pentingnya hidup sehat dengan berolahraga dan juga semakin tergerak untuk berbagi dengan sesama.

“Keinginan kami memang memfasilitasi warga dalam bidang olahraga, banyak juga permintaan dari warga sekitar terkait diadakannya event olahraga pada malam hari di bulan Ramadan. Selain itu, salah satu program CSR perusahaan adalah membantu pendidikan di Indonesia. Event ini merupakan kombinasi dari keduanya,” ujar Hari.

Sinergi BUMN

Dikatakan Dadang, pembangunan TOD sejauh ini baru dilakukan melalui skema sinergi BUMN, misal antara Perum Perumnas dan PT Kereta Api Indonesia (KAI). Namun tidak menutup kemungkinan pihak pengembang swasta untuk turut berperan dalam pembangunan hunian terintegrasi simpul transportasi publik.

“Idealnya pembangunan TOD dilaksanakan dengan skema Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU), karena simpul transportasi merupakan wujud pelayanan publik yang biasanya dimiliki BUMN berupa terminal atau stasiun. Mudah-mudahan pembangunan TOD yang sudah berjalan menjadi stimulus lahirnya inisiatif pengembang swasta untuk dapat memanfaatkan simpul transportasi yang titiknya banyak tersebut,” tuturnya.

Ke depan, Kementerian PUPR sendiri juga berencana akan mengembangkan hunian dengan konsep TOD di lahan milik Kementerian PUPR di Pasar Jumat, Lebak Bulus.

Dadang menambahkan, peluang pembangunan hunian berkonsep TOD sangat besar. Untuk itu, ia mendorong pihak pengembang swasta untuk dapat memanfaatkan peluang tersebut, mengingat jaringan transportasi perkotaan akan terus berkembang.

“Kebutuhan simpul tansportasi Jabodetabek ini sangat luar biasa. Cepat atau lambat, sistem jaringan bawah tanah atau LRT semakin lengkap sehingga semakin terbuka peluang membangun hunian berbasis transit untuk memenuhi kebutuhan hunian di perkotaan,” tandasnya

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!