‘Game of Thrones’ Season 8 Eps 6: Sampai Jumpa, Westeros

oleh

Jakarta –

Perhatian: Spoiler!
Episode terakhir dari warisan budaya paling menghebohkan era ini sudah dirilis. Selama sembilan tahun, delapan musim dan berbagai macam kematian yang sudah kita saksikan, berakhir tidak hanya menjadi tontonan yang sangat menghibur tapi juga menjadi ‘rumah’ bagi kebanyakan penonton.

Saking nyamannya penonton dengan dunia ‘Game of Thrones’, sebuah petisi muncul agar HBO ‘membuat ulang’ musim ini yang menurut si pembuat petisi sangat mengecewakan.

Mengecewakan atau tidak, D. B. Weiss dan David Benioff yang menulis dan menyutradarai episode terakhir ‘Game of Thrones’ yang diberi judul ‘The Iron Throne’ ini berusaha keras untuk memangkas ekspektasi penonton dengan memberikan sajian yang sama sekali berbeda. Hal ini sudah mereka lakukan dengan sukses sejak mereka membuat Daenerys Targaryen, pahlawan yang sudah banyak penonton tunggu kegemilangannya dari musim pertama, ternyata adalah villain musim ini.

Episode ini langsung dibuka setelah hiruk pikuk yang terjadi di episode sebelumnya. Kita menyaksikan King’s Landing yang berbeda dari biasanya. Jika kita terbiasa melihat King’s Landing dengan cuaca tropis dan warna-warna pastel cerah yang hangat, kita melihat warna biru, abu-abu dan putih menjadi tone utama. Kita akhirnya melihat runtuhnya King’s Landing. Kita melihat sebuah ibukota yang mendung. Terbakar menjadi abu.

Tyrion Lannister, Jon Snow dan Ser Davos menyaksikan perubahan ini. Keabu-abuan ini tidak berdampak kepada dekor King’s Langding, tapi juga manusia-manusia yang ada di dalamnya. Jon Snow bahkan mencoba menghentikan Grey Worm yang mencoba mengeksekusi tentara Cersei Lannister. Menurut Jon Snow, perang sudah usai. Darah tak perlu lagi mengotori jalanan.

Menurut Grey Worm, dia hanya melaksanakan perintah Sang Ratu. Dan menurut Sang Ratu, semua mantan tentara pendukung Cersei harus berakhir dengan pisau di leher mereka.

Tyrion kemudian memutuskan untuk mengelilingi istana King’s Landing, The Red Keep, untuk melihat betapa banyak perubahan yang terjadi. Puncaknya adalah ketika dia melihat mayat dua saudaranya, Cersei dan Jaime, di bawah reruntuhan batu. Ketika dia mendengar pidato Daenerys Targaryen yang berapi-api, soal bagaimana dia akan membebaskan semua rakyat di dunia dari tirani, Tyrion tidak punya pilihan lain selain mundur dari jabatannya.

Daenerys mengatakan bahwa Tyrion sudah mengkhianatinya. Tyrion mengatakan hal yang sama. Daenerys sudah mengkhianatinya. Dan jutaan penduduk King’s Landing menjadi korban karenanya.

Di episode sebelumnya Daenerys sudah bersumpah bahwa kalau Tyrion melakukan kesalahan, hal tersebut akan menjadi kesalahan terakhirnya. Dan itulah yang dihadapi oleh Tyrion. Dia tahu bahwa dia akan bertemu dengan ajal. Dan ketika dia bertemu dengan Jon Snow, mungkin untuk terakhir kalinya, dia tahu apa yang harus dia lakukan: memanas-manasi Jon Snow untuk melakukan hal yang benar.

Tyrion tahu bahwa Jon Snow adalah kryptonite Daenerys. Keduanya saling jatuh cinta. Keduanya mempunyai kekuatan yang besar. Keduanya mempunyai kemampuan yang luar biasa untuk memimpin massa. Dan Tyrion mengatakan yang sejujurnya. Bahwa kenaifan Jon Snow untuk tidak menerima Iron Throne yang merupakan haknya memakan korban. Sekarang semua orang mendapatkan pemimpin seperti Daenerys yang diharapkan menjadi pemimpin yang baik dan jujur tapi ternyata tak ada bedanya seperti ayahnya, The Mad King.

Jon Snow masih ngoyo dengan pendapatnya. Bahwa Daenerys adalah Sang Ratu dan dia akan tetap tunduk terhadap semua perintah Sang Ratu. Lalu kemudian Tyrion mengucapkan kalimat-kalimat saktinya. Bahwa Daenerys akan selalu menganggap Jon Snow sebagai ancaman. Dan siapapun yang tidak akan mengakui Daenerys sebagai Sang Ratu akan berakhir dengan tragis. Dan apakah Jon Snow ingat kalau Sansa atau Arya sudah mengaku bahwa Daenerys adalah Sang Ratu?

Jon Snow akhirnya bertemu dengan Daenerys, tepat beberapa detik setelah Daenerys menyentuh Iron Throne untuk pertama kalinya. Adegannya mirip dengan premonition yang dialami Daenerys di musim kedua.

Bahkan abu-abu yang berterbangannya pun sama. Daenerys kemudian bercerita bahwa waktu dia masih gadis kecil, dia tidak bisa membayangkan bagaimana ribuan pedang dijadikan takhta.

Kemudian Daenerys memohon kepada Jon Snow untuk ikut dengannya. Melakukan tugasnya. Membebaskan para penduduk dunia dari pemimpin yang tidak adil. Pemimpin yang buruk.

“Kita menghancurkan roda bersama-sama,” kata Daenerys.

“Kau adalah Ratuku, sekarang dan selama-lamanya,” jawab Jon Snow.

Keduanya berciuman dan kita mendengar suara tusukan. Daenerys jatuh dan mulutnya berdarah. Jon Snow baru saja menusuk Daenerys tepat di jantungnya. Dan ini adalah salah satu klimaks terbesar dalam dunia ‘Game of Thrones’.

Apa yang terjadi setelahnya memang masih menarik tapi adegan tersebut adalah highlight dari episode ini. Drogon si Naga, saking sedihnya melihat si Ibu meninggal dunia mengobarkan api. Seolah-olah dia tahu apa yang sedang terjadi dan tidak rela Iron Throne diduduki siapapun selain si Ibu, Drogon membakar Iron Throne sampai meleleh. Tidak menyisakan apapun. Simbol kekuasaan yang menghantui serial ini sekarang telah tiada.

Loncat beberapa saat kemudian kita melihat Tyrion yang jenggotnya makin panjang. Di hadapan Sansa, Arya, Brienne, Yara, Ser Davos, Bran, Grey Worm dan lain-lain, Tyrion akan disidang. Apakah dia mendapatkan pengampunan atau dia akan dieksekusi. Jawabannya ternyata tidak dua-duanya. Inti dari pertemuan itu ternyata adalah menentukan pemimpin Westeros. Dan jawabannya sungguh mengejutkan. Pemimpin Westeros adalah Bran Stark… atau sekarang Bran The Broken.

Tyrion dengan cerdasnya bermonolog panjang dan menjelaskan kenapa Bran layak menjadi pemimpin. Selain karena Bran sakti (he’s a Three Eyed Raven!!!!), dia juga akan menjadi pemimpin yang adil karena dia tidak pernah terobsesi untuk menyakiti orang.

Bran tidak mempunyai keturunan yang artinya dia tidak akan melahirkan anak-anak yang merasa bahwa takhta Iron Throne adalah milik mereka. Yang artinya pemimpin Westeros di masa depan akan dipilih berdasarkan voting para council. Dan ini sepertinya yang dimaksudkan oleh Daenerys ketika dia berbicara soal menghancurkan roda.

Bran tahu bahwa dia akan menjadi Raja (karena dia sakti) dan dia memutuskan bahwa Tyrion menjadi tangan kanannya. Tyrion menolak karena dia merasa tidak kompeten setelah gagal menjadi tangan kanan Daenerys. Tapi menurut Bran, justru itu poinnya. Kesalahan Tyrion di masa lalu akan menjadikan Tyrion tangan kanan terbaik karena Tyrion akan berusaha keras untuk membayar lunas semua kesalahan yang ia lakukan.

Sementara Bran menerima jabatan menjadi Raja, Sansa masih ngeyel bahwa Northman tidak akan bergabung dengan Seven Kingdoms alias menjadi kerajaan yang independen. Bran setuju. Arya sementara itu memutuskan untuk bertualang. Kemana? Ke tempat yang bahkan tidak tercantum di peta.

Bagaimana dengan Jon Snow? Jon Snow akhirnya “dihukum” dengan cara kembali ke Night’s Watch. Apakah masih ada Night’s Watch? Kata Tyrion masih ada. Dan dengan ini Jon Snow tidak akan pernah punya tanah, punya istri atau punya keturunan. Episode terakhir Game of Thrones kemudian diakhiri dengan Jon Snow dan Tormund bersama para wildlings memasuki hutan, ke teritori baru. Perjalanan baru. Petualangan baru.

Terima kasih Game of Thrones atas petualangannya. Ini mungkin bukan konklusi terbaik untuk serial yang penuh dengan intrik dan darah. Tapi kalau ada satu hal yang saya pelajari dari Game of Thrones adalah nikmati perjalanannya. Terima kasih, sampai ketemu lagi.

Best Player of The Week: Tyrion Lannister
Worst Player of The Week: Jon Snow
Runner up Worst PLayer of The Week: Daenerys Targaryen
The Saddest Moment of The Week: Drogon dan Daenerys Targaryen
The Most Surprising Thing of The Week: Bran Stark is the king
Rest in Peace: Daenerys Targaryen

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!