Semangat Atlet Panjat Dinding Ponorogo yang Tetap Latihan Meski Puasa

oleh

Ponorogo – Sambil menahan rasa haus dan lapar karena berpuasa, ketiga atlet panjat dinding cilik ini tetap rajin berlatih. Alasannya, mereka ingin menjaga kebugaran selama .

Ketiga atlet cilik tersebut yakni Cezza Zahwa Wilyas Sodikin (14), Berliana Putri Wijaya (13) dan Deden Irfan Kurniawan (13). Latihan diawali dengan pemanasan berlari mengelilingi lokasi berlatih. Kemudian dilanjut dengan persiapan memanjat yang mereka lakukan secara mandiri tanpa bantuan pelatih.

Mereka berlatih di Taman Kelono Sewandono. Taman yang terletak di Jalan Pramuka itu sengaja dipilih sebab ada fasilitas papan panjat dinding atau wall climbing.

Total ada 3 arena wall climbing yang bisa dipakai berlatih untuk para atlet. Lokasinya yang berada di tengah kota pun mudah dijangkau.

Ketiga atlet langsung bersiap memakai perlengkapan memanjat usai melakukan pemanasan. Mulai dari harness (penopang tubuh), tali karmantel, carabiner, ascender, descender, figure 8, webbing, sepatu panjat, chalk bag dan mailon rapid.Sekretaris Umum Federasi Panjat Tebing Indonesia Cabang Ponorogo Hafid Nurudin (35) pun ikut bersiap. Hafid yang juga bertindak sebagai pelatih tampak memakai harness dan memegang tali sembari mengawasi anak didiknya yang mulai memanjat dinding.

“Selama puasa pun tetap latihan supaya stamina tidak turun, jam latihan pun sama seperti hari biasa 2 jam,” kata Hafid saat ditemui di lokasi, Jumat (17/5/2019).

Hafid menjelaskan selama bulan puasa, anak didiknya memang harus tetap latihan. Pasalnya, Agustus mendatang mereka bakal menghadapi Kejurprov.

“Latihan harus rutin, bukan halangan. Ini juga jadi kegiatan positif bagi anak-anak,” terangnya.

Salah satu atlet panjat dinding Deden Irfan Kurniawan bahkan sudah menjadi atlet panjat dinding sejak usia 8 tahun. Berbagai prestasi sudah berhasil ditorehkan Deden.”Kejuaraan tingkat provinsi dapat juara 2 sebanyak 3 kali, pernah juara 3 sebanyak 4 kali dan tingkat Kabupaten juara 1 sebanyak 3 kali,” katanya.

Meski berhasil menorehkan prestasi membanggakan, Deden sempat mengalami cedera saat latihan. Dia mengalami pergeseran sendi akibat terantuk dinding.

“Sakitnya dulu kerasa sampai 2 tahun, tapi saya nggak kapok,” imbuhnya.

Anak ketiga dari 4 bersaudara ini mengungkapkan kecintaannya terhadap olahraga esktrem ini berawal dari keikutsertaannya di ekstrakurikuler panjat dinding saat SD. Bahkan dukungan orang tuanya pun tinggi saat ia memilih olahraga itu.

“Kata ayah saya anaknya aktif, jadi cocok jadi atlet panjat dinding supaya bisa berprestasi,” pungkasnya.

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!