5 Tersangka Sudah Ditahan, Polisi Masih Kejar 3 Pengeroyok AKP Aditia

oleh

Semarang – Polisi sudah menahan lima orang tersangka pengeroyok mantan Kasatreskrim Polres Wonogiri, AKP Aditia Mulya. Selain itu, masih ada tiga orang yang dikejar.

“Tiga orang DPO,” ujar Kapolda Jawa Tengah, Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel kepada wartawan di kantornya, Kamis (16/5/2019).

Polisi masih menyelidiki kasus ini. Pemeriksaan saksi sudah juga sudah dilakukan.

Dalam kesempatan ini, Rycko mengungkapkan bahwa kondisi AKP Aditia mulai memiliki perkembangan. “Alhamdulillah sudah ada respon pupil kanan,” kata Rycko.

Rencananya Aditia akan dirujuk ke Singapore Royal Hospital. Ia akan dibawa setelah kondisi dirasa memungkinkan.”Rumah sakit di Singapura siap menerima untuk prawatan di sana. Kita tunggu waktu yang tepat,” pungkas Rycko.

Sebelumnya, AKP Aditia juga telah diperiksa oleh perwakilan dokter dari Singapore General Hospital (SGH), dr Yohanes, Rabu (15/5). dr Yohanes memeriksa AKP Aditia di ruang ICU RS dr Oen Solo Baru, Sukoharjo dengan ditemani Wakapolda Jawa Tengah Brigjen Pol Ahmad Luthfi, Kabid Dokkes Polda Jateng Kombes Tri Yuwono dan beberapa Kapolres wilayah Solo Raya.

Usai pemeriksaan, Luthfi mengatakan bahwa kondisi Aditia menunjukkan hasil positif.

“Hasilnya positif, saraf mata kanan sudah bergerak-gerak. Insyaallah satu atau dua hari lagi akan dikirim ke SGH Singapura,” kata Ahmad Luthfi, Rabu (15/5).

Menurutnya, keluarga juga menanggapi positif atas rencana tersebut. Seperti diberitakan, sebelumnya pihak keluarga batal membawa Aditia ke Singapura karena kondisinya tidak memungkinkan.

“Keluarga sudah setuju, apapun yang terbaik buat Aditia,” ujarnya.AKP Aditia menjadi korban pengeroyokan saat mengamankan konvoi salah satu kelompok silat di Wonogiri. AKBP Uri Nartanti menjelaskan awalnya rombongan massa berencana merusak tugu simbol perguruan silat lain. Namun setelah negosiasi, massa berhasil diurai dan pulang. Kelompok dari kubu lawan juga telah dikondisikan agar tidak muncul.

Namun di saat bersamaan, Aditia yang mengenakan pakaian preman dan terpisah dari pasukan menjadi sasaran massa.

“Padahal kita memanusiakan mereka, kita lakukan pendekatan persuasif. Tapi apa yang mereka lakukan, justru barbar kan?” kata Uri di RS dr Oen Solo Baru, Sukoharjo, Senin (13/5).

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!