Omzet Meningkat, Songkok dari Anyaman Bambu Laris Manis Saat Ramadhan

oleh

Banyuwangi – Desa Gintangan, Kecamatan Blimbingsari, Banyuwangi, Jawa Timur, merupakan penghasil berbagai jenis kerajinan bambu. Salah satu produknya adalah songkok dari anyaman bambu.

Saat ramadhan, permintaan songkok yang terbuat dari bambu ini meningkat hingga 100 persen dibandingkan hari biasanya.

Para pengrajin anyaman bambu terlihat sibuk menata potongan-potongan bambu menjadi anyaman. Setelah anyaman jadi, mereka kemudian membentuk pola songkok dan merekatkan dengan lem. Tak lupa, mereka juga merapatkan anyaman dengan cara dipukul dengan palu.

Bambu pun juga harus dipilih. Untuk jenis bambu yang digunakan adalah jenis bambu apus. Selain itu, juga dipiih pewarna tekstil yang bagus, agar memiliki corak dan tak mudah luntur. “Sudah banyak yang pesan sejak 10 tahun lalu. Ide ini muncul setelah banyak yang mendesain ini. Ternyata bagus ya. Ya akhirnya kita buat dengan skala besar,” ujar Untung Hermawan, salah satu pengrajin songkok dari anyaman bambu, saat ditemui di lokasi workshopnya di Desa Gintangan, Kamis (16/5/2019).

Proses merekatkan dengan lem/Proses merekatkan dengan lem/ Foto: Ardian Fanani

Songkok yang terbuat dari bambu ini banyak disukai. Karena keunikannya dan tidak kalah menarik dari songkok lain. Sementara model anyaman songkok yang dibuat ada 3 jenis. Antara lain model Dadung, Standar dan Asatufa.

“Modelnya sama. Cuma bentuk anyaman berbeda-beda. Selain itu juga warna dan corak juga kita buat seindah mungkin,” tambahnya.

Untuk harga, kata Untung, sangat terjangkau masyarakat. Para pengrajin biasanya menjual songkok dari anyaman bambu itu mulai dari harga Rp 25 ribu hingga Rp 50 ribu.

“Untuk model songkok yang diminati itu motif anyaman Dadung. Harganya sekitar Rp 25 ribuan. Kita jual murah agar banyak juga yang minat,” tegasnya. Momen tahunan seperti ramadhan ini, kata Untung, menjadi berkah dirinya. Secara otomatis omzet penjualan songkok meningkat. Pada hari biasa Untung mengaku mendapatkan Rp 60 juta. Sementara untuk ramadhan meningkat hingga Rp 120 juta.

Potongan bambu menjadi anyaman/Potongan bambu menjadi anyaman/ Foto: Ardian Fanani

“Itu omzet kotor. Karena masih dipotong dengan bahan beli bambu, tenaga kerja 50 orang untuk penganyam bambu dan 5 orang yang desain,” tambahnya.

Berbagai bentuk ukuran dan warna membuat para pembeli tertarik. Banyak pemesan dari luar kota membuat pengrajin songkok anyaman bambu kewalahan. Bahkan sampai para pengrajin songkok ini menolak beberapa permintaan pembeli lantaran tidak mampu memenuhi permintaan pasar.

Sebagian besar permintaan songkok dari anyaman bambu ini berasal dari berbagai kota di Indonesia. Di antaranya dari Surabaya, Madura, Banten hingga luar Jawa seperti Aceh. Para pembeli sengaja memilih songkok bambu iki karena bentuknya unik dan memiliki sirkulasi udara yang bagus.

“Bentuknya unik. Saya beli untuk dijual kembali ke bebera daerah. Surabaya, Madura, Banten, Aceh, Makassar. Selain itu juga songkok ini sirkulasi udaranya bagus dan tidak pengap,” ujar Slamet Riyadi, pembeli songkok bambu.

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!