Mengintip Bazar Ramadhan di Bondowoso

oleh

Bondowoso – Ratusan warga tampak berjubel di Alun-Alun Bondowoso. Mereka berebut membeli takjil maupun penganan lain untuk kebutuhan berbuka puasa Ramadhan.

Tak hanya takjil dan makanan khas Bondowoso. Mereka juga berburu makanan khas daerah lain. Semisal rujak soto Banyuwangi, soto dan tahu campur Lamongan, Pecel Madiun. Bahkan ada pula es pisang ijo, palu butung Makasar, serta es oyen, doger, serta makanan khas daerah lain.

Jam buka Bazar Ramadhan itupun juga terbatas. Yakni mulai pukul 3 sore hingga menjelang salat maghrib, saat berbuka puasa. Selain untuk mencari kebutuhan berbuka puasa, bazar tersebut juga dijadikan ajang ngabuburit.

Ratusan stand berbentuk tenda tersebut sengaja didirikan di sisi selatan alun-alun Ki Bagus Asra. Stand berkuran sekitar 3×3 meter itu sengaja difasilitasi Dinas Parpora dan Dinas Koperindag setempat.

“Adanya bazar Ramadhan seperti ini sangat membantu. Karena kami sehari-hari memang tak sempat memasak di rumah,” tutur Alifa, salah seorang karyawati bank, ketika ditemui di alun-alun, Rabu (15/5/2019).

Bazar ramadhan di Bondowoso/Bazar ramadhan di Bondowoso/ Foto: Chuk S. Widarsha

Menurutnya, selain untuk kebutuhan berbuka puasa keluarga di rumah, ia juga bisa lebih mengenal dan mencicipi masakan dari daerah lain juga.

Terpisah, Kabid Pariwisata Dinas Parpora Bondowoso, Adi Sunaryadi, menyampaikan, selain untuk meningkatkan perekonomian para pelaku usaha kecil, Bazar Ramadhan itu juga ajang untuk wisata kuliner.

“Insyaallah, bazar ini akan digelar selama bulan Ramadhan ini. Tahun sebelumnya memang di jalan Ahmad Yani. Tapi karena animo masyarakat cukup besar, maka kami pindah ke tempat lebih luas,” jelas Adi Sunaryadi.

Pantauan , Bazar Ramadhan tersebut sedikitnya ada 140 pelaku usaha. Mereka menjual berbagai jenis penganan yang lazim ditemui hanya pada saat bulan suci Ramadhan. Kebanyakan memang kuliner. Mulai dari kue khas, takjil, hingga masakan.

Bahkan makanan-makanan yang sebenarnya bukan khas Bondowoso. Sehingga terasa aneh bagi lidah masyarakat yang mayoritas suku Madura. Namun penganan tersebut tetap diserbu pengunjung.

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!