2 Ruas Tol Jasa Marga Bakal Terkena Sistem Satu Arah Saat Mudik

oleh

Uri.co.id, Jakarta – Demi mengurai kepadatan lalu lintas, pemerintah melalui Kementerian Perhubungan akan menerapkan atau one way di Jalan Tol Trans Jawa, yakni dari Km 29 Cikarang Utama hingga Km 262 Brebes Barat.

Jalur sepanjang itu dikelola oleh beberapa Badan Usaha Jalan Tol (BUJT), termasuk PT (Persero) Tbk.

Direktur Utama PT Jasa Marga Tbk, Desi Arryani mengatakan, akan ada dua ruas tol milik perseroan yang juga bakal terkena sistem one way pada saat mudik Lebaran nanti.

“Ada dua, Jakarta-Cikampek sama Palimanan-Kanci. Cuman kita koordinir teman-teman (BUJT yang lain) untuk di sisi operasinya,” ujar dia saat berbincang dengan Uri.co.id di Tunnel Walini, Kabupaten Bandung Barat, seperti ditulis Rabu (15/5/2019).

Seperti diketahui, penerapan ini total berlaku selama tujuh hari. Dengan pembagian, empat hari pada saat arus mudik dan tiga hari pada arus balik Lebaran.

Secara waktu, sistem ini akan mulai berlaku pada pukul 6 pagi sejak hari pertama dan terus berlaku selama 24 jam dalam tujuh hari selanjutnya.

Menanggapi kebijakan tersebut, Desi mengatakan pihak BUJT sepenuhnya mendukung keputusan itu. “Kebijakan pemerintah kita ikut dong,” serunya.

“Pokoknya kita support sepenuhnya. Teknikalnya sangat detil kita support. Tapi statement resminya nanti dari pak Menhub (Budi Karya Sumadi) dan Kakorlantas (Refdi Andri),” dia menandaskan.

Sistem Satu Arah Dinilai Efektif di Tol Trans Jawa, Ini Alasannya

Kepadatan terjadi di Jalan Tol Cipali, Jawa Barat mengarah ke Jakarta, Kamis (29/6). Memasuki H+4 Lebaran, arus balik dari Jawa Tengah menuju Jakarta masih terpantau ramai lancar. (Uri.co.id/Faizal Fanani)

Sebelumnya, saat arus mudik menerapkan sistem satu arah atau one way di jalan tol Trans Jawa. Dengan strategi ini, diyakini dapat mengurai kemacetan yang biasanya terjadi di ruas jalan bebas hambatan tersebut.

Seperti dijelaskan Pemerhati Masalah Transportasi, Budiyanto, kemacetan merupakan salah satu permasalahan lalu lintas yang sampai sekarang belum terselesaikan dengan baik.

“Banyak variabel yang melatarbelakangi mengapa masalah kemacetan lalu lintas seakan-akan menjadi pemandangan sehari-hari yang menjengkelkan, menjenuhkan, dan dapat menimbulkan frustasi dan stress karena capai dan lelah,” jelas Budiyanto kepada Uri.co.id, melalu pesan elektronik, Senin, 13 Mei 2019.

Sementara itu, berbicara soal libur lebaran maka tidak terlepas dari kegiatan mudik ke kampung halaman. Hal ini, bisa menjadi momentum yang bagus bagi para pemangku kepentingan yang bertanggung jawab di bidang lalu lintas dan angkutan jalan, untuk menunjukkan tanggung jawab sebagai pelayan masyarakat dalam melakukan upaya menciptakan situasi keamanan, keselamatan, ketertiban dan kelancaran berlalu lintas yang dinamis dan kondusif, sehingga masyarakat yang mudik terlayani dengan baik.

Diutarakan lebih jauh, jika melihat data Kemenhub, masyarakat yang akan mudik di seluruh wilayah Jabodetabek, kurang lebih 14,6 juta orang. Dengan tujuan paling banyak Jawa Tengah, Jawa Timur dan Jawa Barat.

“Saya kira yang paling efektif dengan cara pengaturan lalu lintas One way ( sistem satu arah ) dengan melihat situasi dan kondisi di lapangan. Sistem ini, merupakan pola manajemen yang dilakukan dengan cara mengubah jalan dua arah, menjadi satu arah dalam rangka untuk meningkatkan keselamatan ,kelancaran lalu lintas yang dapat dilakukan dengan cepat dan biaya murah,” tegas Budiyanto.

Efek Samping

Sejumlah kendaraan antre di gerbang tol Palimanan Cipali, Jawa Barat, Kamis (29/6). Memasuki H+4 Lebaran, arus balik dari Jawa Tengah menuju Jakarta masih terpantau padat dan puncak arus balik diprediksi terjadi H+5 dan H+6. (Uri.co.id/Faizal Fanani)

Dibandingkan dengan melebarkan jalan atau membangun jalan baru, pertimbangan lain one wayadalah kapasitas ruas jalan dan kapasitas persimpangan bertambah, peningkatan keselamatan karena konflik kendaraan berkurang, konfigurasi parkir dapat diakses di kiri serta kanan, dan pengawasan lebih mudah.

Selain dapat mengurai kemacetan, sistem satu arah ini tentu saja menimbulkan efek samping lalu lintas.

Seperti contoh, sebagian kendaraan mengalami jarak tempuh yang panjang, perlu perubahan ataupun pengaturan alat pengatur lalu lintas, perlu penyesuaian rute angkutan umum, dan masyarakat penggunanya termasuk antisipasi jalan alternatif.

“Faktor lain yang tidak kalah penting apabila One way akan diberlakukan ,adalah masalah sosialisasi, dan penyiapan rambu-rambu lalu lintas dan kesiapan petugas,” kata dia.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!