Menengok Masjid Mbah Wali yang ‘Tiban dari Langit’ di Blitar

oleh

Blitar – Nama aslinya Masjid Baitul Muk’minin. Namun warga Dusun Gembong Desa Temenggung Kecamatan Udanawu, Blitar, lebih mengenalnya dengan nama Masjid Mbah Wali. Masjid ini disebut-sebut sebagai satu di antara masjid tiban di wilayah Jawa Timur.

Disebut masjid tiban, karena ditemukan sudah berbentuk masjid. Sering dianggap ‘dari langit’. Tak ada yang tahu siapa yang mengawali pembangunannya. Namun cerita turun temurun dari warga desa menyatakan, masjid itu pertama kali ditemukan oleh seorang ulama bernama Abdullah Islam.

Abdullah Islam adalah ulama Islam sekelas wali. Kharomah beliau yang ceritanya diketahui hingga turunan ketiga, membuat Abdullah Islam lebih terkenal dengan sebutan Mbah Wali.

“Saya hanya mendengar dari sesepuh di sini. Kalau yang menemukan lalu ditambahi bangunan masjid ini mbah saya, Abdullah Islam. Kayunya diambil dari alas Maliran, Ponggok,” kata cucu Abdullah Islam, Siti Alimah kepada saat mengunjungi masjid itu, Selasa (14/5/2019).

Pantauan , masjid tampak depan sudah direnovasi. Namun menara puncak masih tampak bangunan asli. Masjid tersebut disebut-sebut foto kopi dari Masjid Nabawi di Madinah. Empat menara yang menjulang tinggi menghias di setiap sudutnya setinggi 17 meter.

Uniknya, hampir setiap sudut masjid itu dirajah dengan tulisan arab Allah tanpa huruf alif. Mulai dari kusen-kusennya, daun pintu, daun jendela, bahkan pilar, reng, dan usuk-usuknya. Tulisan arab Allah itu tampak timbul dengan postur huruf yang sangat lembut dan sangat kecil-kecil. Kayu- kayunya merupakan kayu jati pilihan.

Di empat menara, yang bagian bawahnya terdapat sumur. Bagian belakang bangunan, juga berdiri menara setinggi sekitar 7 meter. Menara-menara itu berbahan kayu jati.

“Kalau ke sini mau ziarah Mbah Wali, harus wudhu dulu. Lalu membasuh muka tiga kali pada air jeding (kamar mandi) di tiap menara. Pertama dari menara kiri depan, lalu memutar menara kanan depan, kanan belakang dan berakhir kiri belakang. Baru bisa ziarah,” imbuh wanita berusia 62 tahun itu.

Air di sumur menara itu, lanjutnya, dipercaya bertuah. Bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit, karena telah bercampur air zamzam yang dibawa Mbah Wali.

Foto: Erliana Riady

Memasuki masjid, bagian dalam masjid dibagi menjadi dua ruangan. Ruang depan dipakai untuk salat jemaah. Bagian belakang dibatasi dinding tebal merupakan areal makam. Semua bagian bangunan masih asli dari kayu jati. Untuk masuk areal makam, pengunjung harus menuruni lima anak tangga menuju ke bawah.

Setiap pojok ruangan, ada empat tiang pancang besar. Arsitektur joglo dengan bentuk atap limas, nampak menyangga kuat ruangan yang terkesan gelap, namun tenang.

Di tengah ruangan makam itu, sebuah tiang pancang kayu bersudut empat kokoh berdiri menjulang sampai atap. Tiap sudut, ada sebuah kayu berbentuk bulat, penuh tulisan Arab berlafaz Allah.

“Di sini kita usap kayu bulat ini tiga kali, lalu tangan yang dipakai ngusap kita usapkan ke wajah juga tiga kali. Kan ada empat kayu bulat. Ini masing-masing kita usap tiga kali, sambil berputar dari kanan ke kiri juga sebanyak tiga kali. Kata Mbah Wali, ini seperti orang tawaf di Mekah,” jelasnya.

Usai berjalan mengitari tiang tengah, pengunjung baru bisa duduk menghadap sebuah pintu berterali besi. Pintu itu letaknya lebih tinggi. Terpasang papan warna kuning tulisan Arab. Isinya, kurang lebih doa ziarah kubur.

Pintu itu hanya tertutup kelambu. Di balik kelambu itulah dimakamkan Mbah Wali, atau Abdullah Islam bersama dua putranya. Yakni Mohamad Maksum dan Sulaiman Yuhdi.

“Tiap malam Selasa, malam Jumat Wage dan bulan Syawal, banyak peziarah berkunjung ke sini. Biasanya usai ziarah, mereka tahlilan sampai pagi,” ujar Kepala Dusun Gembong, Tarmuji pada .

Menurutnya, keberadaan masjid itu tak pernah jelas sejak tahun berapa. Tapi dari cerita kakeknya, sejak zaman Belanda masih menduduki Indonesia, masjid itu sudah ada. Bahkan kayu jati dari alas Maliran, yang mengantarkan adalah Singa, sang raja hutan.

“Cerita kakek saya lho ya, kayu-kayu buat bangun masjid ini yang mengantarkan Singa. Mbah Wali selalu kasih pertanda pada warga kalau mau ada bencana. Misal mau banjir lahar dingin Gunung Kelud, beliau menancapkan lidi di pematang sawah. Ternyata, itu jalurnya banjir lahar dingin. Mau Gestapu tahun 1965 juga ngasih tanda, di depan masjid ini dicantoli buah kelapa. Entah maknanya apa…..,” pungkasnya.

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!