Memori Mencekamnya Perang Dingin dalam Krisis Venezuela

oleh

Jakarta – Belakangan ini, berada di tubir krisis. Negara yang pernah dipimpin oleh mendiang Hugo Chavez itu, harus berada dalam tarik ulur kepentingan antara Rusia dan Amerika Serikat. Situasi ini seperti mengingatkan publik internasional kepada kondisi perang dingin yang membuat negara Amerika Latin seperti Kuba terdesak.

Maduro yang saat ini masih merupakan Presiden Venezuela mendapatkan sokongan bantuan dari Rusia. Sedangkan oposisinya, Presiden Tandingan Majelis Nasional didukung oleh Amerika Serikat. Analis RAND, sebuah lembaga kajian kebijakan global, James Dobbins menggambarkan situasi Venezuela seperti palagan bagi Maduro dan Guaido saja.”Kita telah sampai pada satu titik di mana situasi di Venezuela telah terbagi menjadi rivalitas antara Maduro dan Guaido. Kini rivalitasnya nampak antara Rusia versus AS,” kata dia kepada BBC.

Setidaknya, Rusia telah mengirim dua pesawat supersonik pengebom ke Venezuela sebagai bagian dari latihan militer gabungan pada Desember lalu. Langkah ini dipandang sebagai wujud sokongan terhadap Maduro.

Bagi para pengamat, situasi ini mirip seperti era Perang Dingin di Amerika Latin tatkala Kuba terjepit di antara dua negara adidaya. Namun, tak ada jawaban sederhana soal mengapa hal yang sama kini juga melanda Venezuela. Kepentingan ekonomi dan politik saling berkelindan dengan kepentingan lain yang melampaui Venezuela.

Setidaknya, selama masa kepimpinan Hugo Chavez pada tahun 1999 hingga 2013, Washington dan Caracas sesekali berseteru. Namun, keduanya juga menciptakan hubungan dagang yang penting.

“Selama bertahun-tahun, AS merupakan pembeli utama minyak Venezuela dan sejumlah pemurnian minyak di bagian utara khusus menangani minyak mentah yang dikirim Caracas ke Amerika,” ungkap Dobbins.Kendati demikian, seteru antara Amerika Serikat dengan Venezuela semakin meruncing, sejak Maduro memegang tampuk kekuasaan pada tahun 2013. Terhitung sejak saat itu, Venezuela bercerai dengan AS. Lantas, negara itu diganjar sanksi yang berimbas pada kondisi ekonomi dan sejumlah perusahaan terkait pemerintahan Maduro. Hal ini membuat Venezuela mengalami hiperinflasi hingga sulitnya mencari bahan pokok.

Suasana semakin mencekam di Venezuela, ditandai oleh beberapa peristiwa. Misalnya pemadaman listrik besar-besaran karena tak ada biaya operasional produksi listrik. Akibatnya, 17 orang dilaporkan tewas karena listrik yang mati membuat rumah sakit tak beroperasi, sehingga pasien di tak bisa ditangani dengan baik. Lantas, ada juga sejumlah warga yang memanfaatkan pemadaman listrik ini untuk menjarah beberapa toko. Selain itu, pemadaman listrik ini juga berimbas pada kerugian material mencapai USD 400 juta atau sekitar Rp 5,7 triliun.

Tak sampai di situ situ saja. Sejumlah warga dilaporkan sedang mengumpulkan air dari pembuangan limbah ke Sungai Guaire di Caracas, akibat krisis air. Sedangkan, karena krisis kebutuhan bahan pokok, ada pula warga yang memunguti keju dan sayuran sisa yang ada di tong sampah untuk dimakan. Belum lagi kerusuhan yang dinyalakan oleh pendukung oposisi agar Maduro lekas lengser. Setidaknya, puluhan orang tewas akibat kerusuhan itu.

Tetapi situasi ini justru jadi celah bagi Presiden Rusia Vladimir Putin untuk mendekat. Konsekuensinya, Venezuela mau tak mau juga harus ikut memperjuangkan negeri kiri tersebut. Para pengamat menilai keterkungkungan Rusia setelah mencaplok Krimea pada 2014 membuat Moskow mencari sekutu di tempat lain.
“Mereka (Moskow) mencari negara-negara yang bersedia berdagang dengan mereka dan itu termasuk Venezuela,” kata Steve Pifer, mantan duta besar AS untuk Ukraina yang kini menjadi peneliti lembaga kajian AS, the Brookings Institution.

Sepanjang satu dekade terakhir, perusahaan minyak Rusia, Rosneft, terlibat lebih jauh pada sektor minyak Venezuela. Beberapa analis memperkirakan Rosneft dan pemerintah Rusia telah membarter minyak Venezuela dengan pinjaman sekitar US$20 miliar untuk pemerintahan Maduro sejak 2006.

Rusia mengirim dua pesawat supersonik pengebom ke Venezuela sebagai bagian dari latihan militer gabungan pada Desember lalu. Langkah ini dipandang sebagai wujud sokongan terhadap Maduro. Sedangkan Amerika Serikat, mendorong Dewan Keamanan PBB agar mendukung presiden tandingan Venezuela, Guaido.

Kondisi Venezuela yang melanda Kuba sekarang agaknya memang punya sejumlah kemiripan dengan Krisis Rudal Kuba pada medio 1962, akibat perang dingin. Krisis ini dimulai ketika AS mensponsori sebuah serangan ke Teluk Babi milik Kuba. Walaupun gagal, namun serangan ini memicu kemarahan Uni Soviet, sekaligus rakyat Kuba sendiri. Pada bulan September 1962, Perdana Menteri Uni Soviet Nikita Kruschev menperingatkan Presiden AS John F. Kennedy agar tak lagi melakukan serangan. Jika tidak, serangan tersebut akan dianggap sebagai peperangan. Namun, rudal-rudal yang dipasang oleh Soviet justru membuat AS melakukan serangan balik. Hingga akhirnya, masa perang dingin ini dijuluki sebagai Krisis Rudal Kuba. Lantas, apakah situasi yang pernah melanda Kuba juga sedang menghampiri Venezuela?

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!