KEIN Ajak Organisasi Islam Terbesar Aktif Gerakkan Ekonomi

oleh

Jakarta – Dalam menghadapi tantangan ekonomi global, Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN), Soetrisno Bachir, mendorong untuk menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang andal. Menurutnya, pemerintah bersama masyarakat perlu adanya gotong royong sehingga semuanya terlibat tanpa adanya penonton. Soetrisno pun mengajak 2 organisasi islam terbesar di Indonesia, yakni NU dan Muhammadiyah untuk sama-sama menciptakan SDM yang berkualitas.

“NU dan Muhammadiyah harus menjadi pusat gerakan ekonomi umat. NU ada di pesantren, Muhammdaiyah ada di sekolah dan perguruan tinggi,” ujar Soetrisno dalam acara Pengkajian Ramadhan Pimpinan Pusat Muhammadiyah di gedung ITB Ahmad Dahlan, Tangerang, Senin (13/5/2019). Soetrisno menyarankan agar setiap lembaga dan organisasi mempunyai Balai Latihan Kerja (BLK) untuk dapat melatih dan melahirkan SDM yang terampil. Tak hanya itu, ia juga berharap lahirnya wirausaha muda baru dari BLK tersebut.

“Jadi nanti harus ada BLK-nya. Jadi kalau kita mau mulai gerakan ekonomi, harus ada fokusnya dan nanti dari BLK itu ada disertifikasi. Jadi lulusan BLK itu disertifikasi misalnya di bidang otomotif atau tata boga. Tapi saya bilang itu belum cukup, jadi harus melatih orang terampil ini untuk jadi pengusaha,” ujarnya.

Soetrisno mencontohkan seperti yang dilakukan oleh Singapura dalam mempersiapkan ekonomi hingga 15 tahun ke depan, dengan mempersiapkan SDM untuk dapat berwirausaha.

“Singapura saja sudah menyiapkan mengenai ekonomi 15 tahun ke depan. Bahkan mengubah atau mengarahkan rakyatnya untuk menjadi entrepreneurship. Karena tantangannya akan semakin besar dengan dibukanya terusan kra. itu akan menghilangkan ekonomi Singapura. tetapi mereka sudah mengantisipasi ini untuk 10-15 tahun ke depan,” ujarnya. “Nah, Indonesia kita ini sama sebetulnya. harus mempersiapkan SDM kita untuk antisipasi kejadian ke depan,” imbuhnya.

Soetrisno menilai, saat ini Indonesia masih belum mampu menyediakan SDM berkualitas. Oleh karena itu, ketika pasar global terbuka yang terjadi malah impor, padahal produk tersebut bisa diproduksi dalam negeri jika memiliki SDM yang mumpuni.

“Sekarang kita ini masih belum siap, sehingga begitu pasar dunia terbuka globalisasi maka barang impor masuk ke Indonesia. Sehingga kita sering mengalami defisit neraca dagang. padahal kita punya semuanya, kalau kita lihat barang impor yang masuk sini sebetulnya banyak yg bisa kita produksi. tapi karena kita tidak fokus maka terjadilah (impor),” ujarnya.

Oleh karena itu, salah satu jalan menurut Soetrisno yang sangat fundamental adalah membawa masyarakat yang mayoritas umat Islam yang ada di dua organisasi besar di Nu dan Muhammadiyah. Keduanya didorong untuk mengambil satu sikap agenda yaitu mempersiapkan generasi yang menguasai ekonomi dan kewirausahaan.

“Itu mudah dilaksanakan karena terkontrol di dua lembaga yang memang mempunyai reputasi luar biasa ini,” ujarnya.

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!