Air Mata Murni untuk Buah Hati yang Jadi Korban Tragedi Mei 1998 di Mal Klender

oleh

Uri.co.id, Jakarta – Sejak pagi, dengan kostum serba hitam, Murni mendatangi Citra Plaza Klender, Jakarta Timur. Dulu mal ini bernama Mal Yogya dan menjadi salah satu lokasi kerusuhan . Ratusan korban berjatuhan pada saat itu.

Bangunan tersebut diduga sengaja dibakar ketika masa transisi Orde Baru ke Reformasi. Banyak orang terjebak di dalamnya, salah satunya Agung Tripurnawan.

Agung adalah anak ketiga dari Murni yang masih duduk di kelas tiga SMP. Saat terjadi, Agung minta izin pergi meminjam buku.

“Dia pamitan pinjam buku. Enggak tahu kalau dia ke sini (Mal Klender). Saya dikasih tahu, ‘Mak, saya mau pinjam buku sebentar.’ Saya lagi mandi waktu itu,” tutur Murni di Mal Klender, Jakarta Timur, Senin (13/5/2019).

Sore itu, Murni melihat asap mengepul karena lokasi mal tak terlalu jauh dari rumahnya. Asapnya membumbung tinggi ke langit.

Namun, dia tak mengira anaknya ikut terjebak dalam mal yang terbakar tersebut.

Kabar mengejutkan itu didapatnya dari teman Agung. Remaja tersebut mengatakan Agung terjebak dalam mal.

“Temannya bilang terjebak, lagi main-mainan di atas,” kenang Murni tentang sembari berurai air mata.

Tak Kuasa Menahan Tangis

Mahasiswa Trisakti berziarah ke makam pejuang reformasi di TPU Tanah Kusir, Jakarta, Minggu (12/5/2019). Kegiatan itu untuk mengenang kembali empat mahasiswa Universitas Trisakti yang meninggal karena tertembak saat melakukan aksi memperjuangkan reformasi pada Mei 1998. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)

Mengenang buah hatinya, Agung merupakan anak yang sangat sayang dan pengertian terhadap empat adiknya.

Sebelum hari nahas itu, Agung berkelakar esok hari banyak kawan dan gurunya yang akan datang ke rumahnya. Terlebih, 14 Mei itu bertepatan dengan hari ulang tahunnya. Dia pun meminta Murni menyiapkan air minum untuk suguhan.

Hari ini, Senin (13/5/2019), Murni berada di Mal Klender bersama sejumlah keluarga korban kerusuhan Mei 1998 untuk melakukan tabur bunga.

Dia terus memanjatkan doa untuk anaknya dan para korban lainnya. Sesekali dia mengusap mata, tak kuasa menahan tangis saat mengenang 21 tahun kepergian anaknya.

“Saya enggak niat pengin nangis, enggak,” ujar Murni berusaha menahan tangisnya.

Pedih yang tak tertahan membuat Murni berharap, tragedi yang menimpa anaknya dan para korban lain Tragedi 1998 tak akan menimpa keluarga lain. Dia berharap, tak ada lagi tragedi serupa yang terjadi di negeri ini.

“Jangan sampai terulang kembali,” ucap Murni.

Reporter: Hari Ariyanti

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!