Anomali Sikap Agum Gumelar ke SBY

oleh

Jakarta – Tak seperti biasanya,yang belum lama ini mengkritik Susilo Bambang Yudhoyono ) sebagai sosok tak berprinsip, kini justru membela SBY dari hujatan. Ada dalam sikap yang diperagakan Agum.

Masih hangat dalam ingatan, Agum bikin heboh jagat politik nasional karena video yang memuat pernyataannya beredar pada Maret 2019 lalu.

Saat itu, pemungutan suara Pemilu 2019 belum digelar. Kubu petahana Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin dan kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno berkampanye. Agum ada di pihak Jokowi, dan SBY sang Ketua Umum Partai Demokrat ada di pihak Prabowo. Politik makin seru, muncul video Agum, salah satunya seperti yang diunggah pegiat media sosial Ulin Ni’am Yusron.

Dalam video itu, Agum menjelaskan soal Dewan Kehormatan Perwira (DKP) yang bertugas memeriksa dugaan pelanggaran HAM berat yang dilakukan Prabowo. Agum yang merupakan mantan Komandan Jenderal Kopassus pernah duduk di dalam DKP tersebut. Dia mengaku tahu betul lokasi pembuangan korban penculikan 1998, karena Tim Mawar yang mengeksekusi adalah bekas anak buahnya di Kopassus.
Singkat cerita, DKP merekomendasikan temuannya ke Panglima TNI supaya Prabowo Subianto diberhentikan dari dinas militer karena Prabowo melakukan pelanggaran HAM berat dalam kasus penculikan 1998 itu. Pada titik inilah Agum menilai SBY sebagai sosok yang tak berprinsip. Dahulu, SBY yang juga duduk di DKP menandatangani keputusan terkait pelanggaran HAM Prabowo. Namun di Pilpres 2019, SBY justru memberikan dukungan kepada Prabowo.

“Walaupun sekarang ini saya jadi heran, ini yang nanda tangan rekomendasi kok malah mendukung, ah itu. Nggak punya prinsip itu orang,” ucap Agum dalam video itu.

Anomali Sikap Agum Gumelar ke SBYFoto ilustrasi: SBY (Dok. Istimewa)

SBY merespons pernyataan Agum yang dianggapnya sebagai ‘pembunuhan karakter’. Dia mengaku bisa melawan pernyataan itu, namun memilih untuk tidak melakukannya.

“Teman-teman, tentu saja saya sangat bisa menjawab dan melawan ‘pembunuhan karakter’ dari Pak Agum Gumelar terhadap saya tersebut. Tetapi tidak perlu saya lakukan karena saya pikir tidak tepat dan tidak bijaksana. Saya malu kalau harus bertengkar di depan publik,” kata SBY, Jumat (15/3/2019).
Kini hari pemungutan suara sudah lewat. Angin politik senantiasa berganti seturut dinamika yang terus berubah. Politikus Partai Demokrat memberi pernyataan kontroversial soal kubu capres yang didukungnya, Prabowo-Sandi. Politikus Partai Demokrat yang dulu sempat menjadi korban penculikan 1998, , menyebut ada ‘setan gundul’ yang berpengaruh buruk di lingkaran dalam Prabowo.


Kivlan Zen, purnawirawan TNI pendukung Prabowo, tidak terima dengan terminologi ‘setan gundul’ yang diucapkan Andi Arief. Sekalian, Kivlan juga melancarkan kritik ke atasan Andi Arief, yakni SBY.

“Orang Partai Demokrat nggak jelas kelaminnya, SBY nggak jelas kelaminnya, dia mau mencopot Prabowo supaya jangan jadi calon presiden dengan gayanya segala macam cara,” ujar Kivlan, Kamis (9/5).

Anomali Sikap Agum Gumelar ke SBYFoto: Kivlan Zen (Denita Matondang/)

Kivlan bahkan menyebut SBY licik. Dia mengaku tahu betul karakter SBY, karena SBY adalah juniornya di TNI. SBY disebut tak rela Prabowo jadi presiden.
“Dia saya tahu sifatnya mereka ini saling bersaing antara Prabowo dan SBY. Dia tak ingin ada jenderal lain yang jadi presiden, dia ingin dirinya sendiri dan dia orangnya licik. Sampaikan saja bahwa SBY licik. Dia junior saya, saya yang mendidik dia, saya tahu dia orangnya licik, dia mendukung 01 waktu menang di tahun 2014,” sambung Kivlan.

Menanggapi Kivlan, Agum Gumelar yang juga merupakan Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Jokowi mengingatkan agar bersikap baik ke SBY. Agum membela SBY dari hujatan Kivlan.

Anomali Sikap Agum Gumelar ke SBYAgum Gumelar (Ari Saputra/)

“Saya juga sangat mohon maaf ya, itu juga kawan-kawan saya juga di 02 itu, seperti Kivlan Zen. Saya rasa tidak sepatutnyalah berkata seperti kasar terhadap Pak SBY,” ujar Agum di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat (10/5/).
Di sinilah anomalinya. Dulu Agum mengkritik SBY tak punya prinsip, kini Agum mengimbau agar orang-orang menghormati SBY. Dia tegaskan, SBY adalah Presiden ke-6 RI. Tak sepatutnya dia dicaci-maki. Sebagai sesama eks militer, Agum tetap menghormati SBY.

“Menurut saya, etika keprajuritan tidak mengizinkan. Apalagi sama-sama tentara. Dan SBY adalah jenderal bintang empat, dia adalah Presiden,” ujar Agum.

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!