Istri Panitera PN Jaktim Cerita Disuruh Buang Dolar saat Penangkapan

oleh

Uri.co.id, Jakarta – Istri mantan panitera Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Ramadhan, mengaku pernah diperintah suaminya untuk membuang uang pecahan dolar Singapura saat penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi () mendatangi kediaman mereka.

“Suami saya taruh sesuatu di bawah tempat tidur, terus turun, masuk lagi, langsung pegang amplop keluarkan uang dolar Singapura suruh saya buang. Saya tanya kenapa? (Dijawab Ramadhan) Ari ditangkap, ada di bawah,” kata Desi saat memberikan keterangan untuk dua hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Iswahyu Widodo dan Irwan yang duduk sebagai terdakwa penerima suap, Kamis (9/5/2019).

Permintaan sang suami ditolak oleh Desi Diah Suryono, istri Ramadhan. Ia mengimbau agar sang suami ikuti saja proses hukum dan tidak melakukan tindakan pidana seperti membuang barang bukti.

Jaksa kemudian menanyakan tahu tidaknya Desi sumber uang Ramadhan. Perempuan yang berprofesi sebagai jaksa itu mengaku tak tahu.

Namun, pada satu waktu berdasarkan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) milik Desi yang dibacakan ulang oleh jaksa penuntut umum pada KPK, ia sempat mengeluh dengan tindakan Ramadhan yang kerap memintanya berkomunikasi dengan hakim Iswahyu, mengajak minum kopi bersama.

“Saya tidak tahu kerjaan kamu kayak apa,” kata Desi dalam BAP tersebut.

Desi pun mengaku baru mengetahui ada uang yang disimpan oleh suaminya saat melakukan penindakan. Tidak hanya itu, Desi juga baru tahu maksud titipan pesan ajakan ngopi oleh suaminya dengan hakim tidak lain membahas perkara gugatan perdata satu perusahaan. Yang mana Iswahyu merupakan ketua majelis dari perkara tersebut.

Juga saat jaksa menanyakan komunikasinya dengan Iswahyu melalui WhatsApp dengan sandi Kemang V. Desi mengaku baru tahu maksud Kemang V adalah Rp 500 juta yang dijanjikan pihak berperkara untuk hakim.

“Saya baru tahu Kemang V itu saat penyidik tanya, tahu tidak Kemang V? Saya jawab enggak tahu. Kata penyidik Kemang V itu Rp 500 juta, oh saya baru tahu,” kata Desi.

Suap Dua Hakim

Ilustrasi Korupsi (iStockPhoto)

Sebelumnya, dua hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yaitu R Iswahyu Widodo dan Irwan didakwa menerima uang sejumlah Rp 150 juta dan SGD 47 dolar Singapura (senilai total Rp 680 juta) dari pengusaha Martin P Silitonga. Penerimaan suap itu diduga untuk mempengaruhi putusan perkara perdata mengenai gugatan pembatalan perjanjian akusis antara CV Citra Lampia Mandiri (CLM) dan PT Asia Pacific Mining Resources (APMR).

Muhammad Ramadhan adalah panitera pengganti pengadilan negeri (PN) Jakarta Timur yang lama bertugas di PN Jaksel sehingga memiliki jaringan luas dan dapat berhubungan dengan majelis hakim yang bertugas di PN Jaksel termasuk R Iswahyu Widodo dan Irwan.

Iswahyu Widodo, Irwan serta Achmad Guntur menjadi majelis hakim yang menangani perkara perdata No 262/Pdt.G/2018 PN JKT.SEL dengan penggugat pemilik PT CLM Isrullah Achmad dan direktur PT CLM Martin P Silitonga dengan pengacaranya Arif Setiawan melawan tergugat PT APMR, dirut PT CLM Thomas Azali dan notaris Suzanti Lukman.

Arif kemudian meminta bantuan Ramadhan menyampaikan kepada Irwan bahwa untuk putusan akhir ada uang sekitar Rp 500 juta.

Ramadhan lalu memberitahu hasil pertemuan kepada Arif Fitrawan yang intinya majelis hakim bersedia membantu dengan syarat disiapkan uang Rp200 juta untuk putusan sela dengan peruntukan Rp 150 juta untuk majelis hakim, Rp10 juta untuk panitera dan Rp40 juta dibadi dua untuk Ramadhan dan Arif Fitrawan, sedangkan putusan akhir disiapkan uang Rp 500 juta.

Uang diserahkan secara bertahap yaitu pada 31 Juli 2018 diserahkan Arif Fitrawan senilai Rp 200 juta kepada M Ramadhan di parkiran masjid STPDN Cilandak Ampera Jakarta Selatan. Selanjutnya Ramadhan menemui Irwan di parkiran Kemang Medical Center lalu menyerahkan uang sebesar Rp 150 juta kepada Irwan.

Setelah menerima uang, Irwan mengajak Iswahyu Widodo makan malam dan Iswahyu Widodo meminta Irwan mengambil sebesar Rp 40 juta dan sisanya untuk dirinya.

Mendekati putusan akhir pada akhir November 2018, Arif Fitrawan menemui Ramadhan di Warkop Pua’ Kale untuk menyampaikan Rp 500 juta bagi hakim sudah ada dan ada uang “entertain” untuk Ramadhan. Ramadhan meminta uang itu ditransfer ke rekening atas nama pegawai honorer PN Jaktim Mohammad Andi sehingga Arif langsung mentransfer Rp 10 juta ke rekening tersebut. Martin Silitonga juga mentransfer uang Rp20 juta ke rekening Arif pada 23 November 2018.

Atas perbuatan itu kedua hakim didakwa dengan pasal 12 huruf c atau pasal 11 jo pasal 18 UU No 31 sebagaimana diubah dengan UU No 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP jo pasal 64 ayat 1 KUHP.

Reporter: Yunita Amalia

Sumber: Merdeka

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!