UGM: Tudingan Kecurangan Diduga Membuat KPPS Depresi dan Lelah

oleh

Sleman – Pakar politik dari Fisipol UGM, Dr Abdul Gaffar Karim, menduga tudingan kecurangan sebelum pelaksanaan Pemilu menjadi salah satu faktor depresi dan kelelahan fisik petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS). Begini penjelasannya.

“Kami menduga, melihat bahwa tekanan politik, tudingan kecurangan, tekanan untuk menghitung Pemilu dengan secepat mungkin ini juga bisa kemungkinkan menjadi contributing factor terhadap depresi petugas di lapangan yang membuat kelelahan fisik mereka menjadi tambah berat,” kata Gaffar.

Hal itu disampaikan Gaffar dalam konferensi pers ‘tanggapan UGM terhadap kejadian sakit dan meninggalnya petugas dalam Pemilu 2019’ di Digilib Cafe Fisipol UGM, Kamis (9/5/2019).

Turut hadir saat konferensi pers Dekan Fisipol UGM Dr Erwan Agus Purwanto, Dekan Fakultas Psikologi UGM Prof Dr Faturochman, serta Dekan Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) UGM, Prof dr Ova Emilia.Gaffar menerangkan, sebelum ini pihaknya telah menggelar focus group discussion (FGD) di ruang sidang dekanat Fisipol UGM, Rabu (8/5) kemarin. FGD yang dihadiri perwakilan ketiga fakultas tersebut menyimpulkan sejumlah hal.

Konferensi pers di Digilib Cafe Fisipol UGM.Konferensi pers di Digilib Cafe Fisipol UGM. Foto: Usman Hadi/

Selain menduga tudingan kecurangan turut menjadi faktor banyaknya korban, FGD juga bersepakat untuk mengkategorikan meninggalnya ratusan petugas KPPS di Pemilu 2019 sebagai kejadian luar biasa.

“Luar biasa karena kita tidak berharap hanya dengan menjadi petugas saja orang akan meninggal. Jadi ini kejadian yang luar biasa. Akan tetapi bagi kami ini tidak ada indikasi delegitimasi Pemilu,” ungkapnya.

Kemudian FGD juga menduga adanya beban kerja berlebih yang dibebankan kepada petugas Pemilu. Pihaknya juga menemukan indikasi suatu persoalan dalam proses perekrutan petugas KPPS.”Misalnya tim dokter mengatakan surat keterangan sehat itu sering kali dibuat secara borongan dan tidak didasarkan pada pemeriksaan kesehatan yang memadai,” sebutnya.

FGD, kata Gaffar, juga menyepakati untuk dibentuknya kelompok kerja (Pokja). Tugas Pokja adalah melakukan riset selama beberapa minggu ke depan untuk menyimpulkan berbagai dugaan yang mengemuka di FGD.

“Penelitinya para dosen di tiga fakultas (Fisipol, Psikologi dan FKKMK UGM), masing-masing dari setiap fakultas itu ada dua orang. Jadi akan ada enam tim inti, nanti akan dibantu dengan tim asisten dan tim lapangan,” tutupnya.

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!