Disebut AS Akan Kabur ke Kuba Saat Upaya Kudeta, Maduro: Itu Lelucon

oleh

Caracas – (AS) sempat menyebut Presiden Venezuela berniat kabur ke Kuba saat upaya kudeta terhadapnya tengah berlangsung pada Selasa (30/4) waktu setempat. Maduro membantah keras-keras tuduhan AS ini.

Menteri Luar Negeri (Menlu) AS, , sebelumnya menuturkan kepada CNN bahwa Maduro sebenarnya bersiap meninggalkan pada Selasa (30/4) pagi waktu setempat, namun batal setelah diajak bicara oleh seorang pejabat Rusia yang tidak teridentifikasi.

“Mike Pompeo mengatakan bahwa… ‘Maduro memiliki sebuah pesawat yang siap membawanya ke Kuba tapi Rusia mencegahnya meninggalkan negara itu’. Tuan Pompeo, tolonglah, ini sungguh sebuah lelucon,” ucap Maduro dalam tanggapannya, seperti dilansir AFP, Rabu (1/5/2019).

Lebih lanjut, Maduro menyebut klaim Pompeo itu ‘sinting’ dan menyebutnya sebagai ‘kebohongan dan manipulasi’. “Tolong, Tuan Pompeo, Anda tidak serius,” ucapnya.

Dalam wawancara dengan wartawan CNN, Wolf Blitzer, dalam program acara ‘The Situation Room’, Pompeo menyebut Maduro bersiap kabur ke Kuba saat upaya kudeta berlangsung dan pesawat untuknya telah diparkir di landasan. Pompeo enggan mengungkapkan bagaimana AS mendapat informasi itu.

“Kami mengawasi sepanjang hari, sudah sejak lama sejak terakhir kali orang-orang melihat Maduro. Dia memiliki sebuah pesawat di tarmak, dia siap untuk pergi pagi ini seperti yang kami pahami dan Rusia mengindikasikan dia harus tetap tinggal,” sebut Pompeo kepada CNN.

“Dia akan menuju Havana,” imbuhnya merujuk pada ibu kota Kuba, sekutu sosialis Venezuela.

Klaim Pompeo itu juga dibantah Rusia, yang menuduh AS sengaja menyebarkan informasi palsu. “Washington (AS) berupaya sebaik mungkin untuk merusak moral tentara Venezuela dan menggunakan informasi palsu sebagai bagian dari perang informasi,” tegas juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova.

Selain klaim Pompeo, sejumlah pejabat AS menuturkan kepada Reuters bahwa tiga pejabat tinggi loyalis Maduro telah bicara dengan pihak oposisi dan siap mendukung transisi kekuasaan secara damai. Tiga loyalis Maduro yang dimaksud adalah Menteri Pertahanan Vladimir Padrino, Ketua Mahkamah Agung Maikel Moreno dan Komandan Pengawal Kepresidenan Ivan Rafael Hernandez Dala.

“Mereka berunding sejak lama soal cara memulihkan demokrasi, namun tampaknya hari itu mereka tidak mengalami kemajuan,” sebut Utusan AS untuk Venezuela, Elliott Abrams. “Semua sepakat bahwa Maduro harus pergi,” timpal Penasihat keamanan nasional AS, John Bolton.

Duta Besar Venezuela untuk PBB, Samuel Moncada, menyangkal klaim-klaim itu dengan menyebutnya sebagai ‘propaganda’ AS.

Padrino sendiri tampak mendampingi Maduro saat menyampaikan pidato pertama usai upaya kudeta. Dalam pidatonya, Maduro menegaskan upaya kudeta telah digagalkan dan militer Venezuela tetap mendukungnya. “Rencana mereka gagal, seruan mereka gagal, karena Venezuela ingin perdamaian,” sebut Maduro.

Upaya kudeta yang diawali aksi protes besar-besaran oleh puluhan ribu pendukung pemimpin oposisi pada Selasa (30/4) waktu setempat, berujung kerusuhan yang melukai sedikitnya 78 orang di Caracas. Guaido yang muncul dalam aksi protes tersebut, berupaya menunjukkan dukungan militer Venezuela untuk oposisi. Dalam sebuah video, dia tampil bersama puluhan tentara Venezuela yang disebutnya mendukung upaya penggulingan Maduro.

Tonton juga video Kerusuhan Pecah Saat Upaya Kudeta di Venezuela:

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!