Kekayaan Narasi dan Keajaiban Film ASEAN

oleh

Jakarta – Wajah dingin Stevel Seagal terpampang di sepanjang Main Bazaar Street di pusat kota Kuching, Serawak, Malaysia sepanjang akhir pekan lalu. Aktor laga Hollywood itu memang tengah berada di kota tersebut untuk menghadiri ASEAN International Film Festival and Awards (AIFFA) 2019 yang digelar 25-27 April. Aktor “Under Siege” itu diundang secara khusus sebagai bintang tamu.

Ajang festival dua tahunan yang tahun ini memasuki gelaran ketiga tersebut telah berhasil memberi warna baru bagi ibu kota salah satu negara bagian Malaysia yang berbatasan dengan Kalimantan, dan menyebut diri sebagai “Bumi Borneo” tersebut. Aura festival terasa di seluruh penjuru kota, menciptakan keriuhan bagi warga, dan menjadi daya tarik tersendiri bagi turis.

Kota berpenduduk sekitar 600 ribu orang itu memang merupakan salah satu andalan tujuan wisata Malaysia, khususnya Serawak. Dalam tahun-tahun terakhir rata-rata 4 hingga 5 juta turis datang ke Serawak per tahun, dan salah satu tujuan utama mereka tentu saja Kuching. Tak kurang dari Stevel Seagal pun memuji keelokan kota tersebut sebagai “unspoiled”.

Walaupun cuaca akhir pekan kemarin tak cukup bersahabat, hujan turun setiap hari nyaris tanpa kenal waktu, namun hal itu tak mengurangi antusias warga untuk perhelatan AIFFA yang dipusatkan di Old Courhouse, sebuah kompleks gedung tua di pusat kota, tak jauh dari Jembatan Darul Hana di Kuching Waterfront yang merupakan salah satu daya tarik utama turis asing, sekaligus pusat aktivitas publik warga kota.

Sebagai festival film yang masih berumur pendek, AIFFA mampu mengundang film-film terbaik dari 9 negara anggota ASEAN. Dari Indonesia, terpilih empat film untuk diputar dan berkompetisi. Yakni, “Ave Maryam” karya Ertanto Robby Soediskam, “27 Steps of May” karya Ravi Bharwani, “Pengabdi Setan” karya Joko Anwar, dan “Tengkorak” karya Yusron Fuadi. Total, AIFFA 2019 memutar dan menilai 29 film.

Dari film-film tersebut tampak bahwa ASEAN memiliki kekayaan narasi yang tak bisa dibandingkan dengan Hollywood maupun Eropa yang industri filmnya sudah jauh lebih mapan. Menyaksikan film-film ASEAN bahkan terasa seperti melihat keajaiban tersendiri dari sebuah masyarakat yang memiliki keragaman budaya dan bahasa yang unik.

Salah satu film yang menarik perhatian publik adalah “Guang”, film asal Malaysia berbahasa China karya sutradara Shio Chuan Quek. Film ini mengisahkan tentang dua pria bersaudara yang harus menghidupi diri mereka sendiri sepeninggalan orangtuanya. Wen Guang sang kakak yang autis membuat jengkel dan marah adiknya karena kebiasaannya mencuri dan mengumpulkan gelas. Sampai suatu hari, kebiasaan itu harus membuatnya berurusan dengan polisi.

Sang adik yang selama ini menjadi pengasuh dan pengganti orangtua bagi Guang pun habis kesabarannya, menghajarnya, hingga membuat Guang kabur dari rumah. Saat itulah, baru timbul penyesalan dari diri adik Guang. Di tengah pencariannya yang nyaris putus asa, sang adik mendapati kenyataan yang tak terduga mengenai Guang dan kebiasaan anehnya.

Film lain yang mendapat perhatian besar dari publik penonton termasuk “Ave Maryam” dari Indonesia. Dibintangi Maudy Koesnaedy dan Chicco Jerikho, film ini mengisahkan “cinta terlarang” yang tumbuh di lingkungan biarawati Katholik.

Film asal Filipina berjudul “Signal Rock” karya sutradara Chito Rono terpilih oleh dewan juri sebagai Film Terbaik. Sedangkan film “Bad Genius” dari Thailand yang juga populer di Indonesia menerima penghargaan Special Jury Awards karena dinilai berhasil menampilkan persoalan-persoalan kekinian anak muda di ASEAN.

Dari Indonesia, film “Ave Maryam” memenangkan kategori Editing Terbaik dan Raihanuun meraih piala Aktris Terbaik untuk penampilannya di film “27 Steps of May”. Penghargaan khusus Lifetime Achievement Award diberikan kepada aktor kawakan Indonesia Slamet Rahardjo. Ketika menerima piala tersebut, Slamet mengatakan bahwa film baginya bukanlah pekerjaan melainkan hidup itu sendiri.

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!