Lalu M Zohri dan Kejutan-Kejutan yang Dibuatnya Itu

oleh

Jakarta – melanjutkan kejutan di. Sprinter asal Lombok Utara itu meraih perak sekaligus memecahkan rekor nasional.

Zohri mencuri panggung saat menjadi juara pada Kejuaraan Dunia Atletik 2018 di Finlandia. Dia menjadi yang tercepat pada nomor bergengsi, lari 100 meter putra. Zohri pun menjadi pelari Indonesia pertama yang meraihnya.

Drama berlanjut dengan insiden bendera. Zohri merayakan sukses itu dengan berkalung bendera negara lain, Polandia, yang berwarna putih merah. Media sosial pun berisik.

Tapi, dari gaduh itu imbas positif dituai. Atletik mendapatkan tempat tersendiri di hati publik Indonesia. Zohri menjadi salah satu atlet yang populer di kalangan masyarakat.

Rentetan prestasi Zohri, yang tumbuh di rumah kayu dan yatim piatu, menjadi konsumsi publik. Mereka menjadi tahu jika Zohri sudah mencuri panggung di Kejuaraan Nasional antar-PPLP pada November 2017.

Zohri, peserta dari PPLP Nusa Tenggara Barat (NTB), finis terdepan dengan catatan waktu 10,25 detik di lari 100 meter putra. Dia sampai membuat panpel mengecek ulang alat pengukur. Pada prosesnya, sah! Zohri dinyatakan sebagai juara sekaligus memecahkan rekor nasional milik Sudirman Hadi (10.45 detik).

Keberhasilan itu membawa Zohri ke pelatnas. Ngenger di pelatnas selama lima bulan, di bawah asuhan Eni Nuraini , ecepatan Zohri meningkat 0,02 detik. Dia mencatatkannya di Kejuaraan Asia Atletik Junior di Stadion Gifu Nagaragawa dan keluar sebagai juara.

Panggung berikutnya di level dunia. Di Finlandia itulah Zohri mengguncang mata sejagat. Zohri berhasil finis terdepan dengan waktu 10,18 detik, cuma berjarak 0,01 detik dari catatan waktu manusia tercepat Asia Tenggara,

Setelah itu, Zohri manggung di Asian Games 2018. Tampil di nomor spesialisnya, Zohri, yang masih berstatus pelari junior, finis di urutan ketujuh dengan catatan waktu yang sama saat tampil di Jepang.

Lalu Muhammad Zohri bersama pelatihnya di pelatnas atletik, Eni Nuraini. Lalu Muhammad Zohri bersama pelatihnya di pelatnas atletik, Eni Nuraini. (Agung Pambudhy/)

Tapi, bersama tiga sprinter Indonesia lain, Fadlin, Eko Rimbawan, dan Bayu Kertanegara, di nomor lari estafet 4×100 meter putra, Zohri berhasil mencatatkan rekor nasional baru, juga medali lagi sejak Asian Games 1966. Dengan catatan waktu 38,77 detik, mereka meraih medali perak.

Enam bulan sejak Asian Games, Zohri berlari makin cepat. Itu dibuktikan di Kejuaraan Asia Atletik di Doha. Zohri finis kedua dalam final pada Selasa (23/4) WIB dengan catatan waktu 10,13 detik. Dia cuma kalah dari sprinter Jepang Yoshihide Kiryu.

Catatan waktu itu lebih tajam ketimbang saat dia tampil di semifinal, Senin (22/4). Zohri mencatatkan waktu 10,15 detik pada semifinal kedua. Dari angka itu, dia sudah berhasil memecahkan rekor Suryo, 10,17 detik, yang sudah berusia 10 tahun, dan melaju ke final.

Torehan itu juga menjadi yang pertama bagi Indonesia sejak Kejuaraan Asia Atletik 1985. Waktu itu, Purnomo menjadi runner-up dengan catatan waktu 10,33 detik pada 34 tahun lampau.

Zohri, yang masih berusia 18 tahun itu, sekaligus mengakhiri paceklik medali Indonesia di Kejuaraan Atletik Asia sejak 2009. Waktu itu, Dedeh Erawati meraih medali perunggu dari nomor 100 meter lari gawang putri.

Setelah ini, bikin kejutan apa lagi Zohri?

Video Ketika Lalu M Zohri Raih Medali Perak:

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!